Ayah, Aku Ingin Pulang

Aku kaget. Seumur hidup, aku pikir Ayah hanya petugas teknisi di pabrik dekat rumah.

“Jakarta juga. Tahun 1989. Tapi Ayah nggak betah. Terlalu bising, terlalu banyak orang yang bicara tanpa benar-benar mendengar.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Aku tertawa kecil. “Terus Ayah pulang?”

“Pulang. Karena waktu itu kamu baru lahir.”

Hening. Aku merasa dadaku hangat. Bukan karena teh. Tapi karena kalimat itu.

“Jadi Ayah ngalah?” tanyaku.

Ayah tersenyum kecil. “Ngalah bukan kalah, Fan. Kadang orang pulang bukan karena gagal, tapi karena tahu apa yang paling berharga.”

Beberapa minggu setelah Ayah keluar dari rumah sakit, aku memutuskan tinggal lebih lama. Kantor mengizinkan kerja jarak jauh selama aku tetap produktif. Anehnya, justru di rumah, aku merasa lebih hidup. Lebih utuh.

Pagi-pagi, aku biasa duduk di meja makan, kerja sambil mencium bau nasi goreng buatan Ibu. Di sela-sela Zoom meeting, Ayah kadang menyahut dari ruang depan.

“Jangan lupa shalat zuhur, Fan.”

“Iya, Yah,” jawabku.

Dulu, kalimat itu terasa mengganggu. Sekarang? Justru jadi pengingat paling hangat.

Suatu sore, aku menemani Ayah menyiram tanaman. Dia sudah tidak sekuat dulu, jadi aku yang bawa selang. Ayah menunjuk ke satu sudut halaman.

“Pohon mangga itu, Ayah tanam waktu kamu kelas dua SD. Waktu kamu pulang sambil nangis karena dijemput paling akhir.”

Aku tersenyum. Ingat betul hari itu. Semua anak sudah dijemput, hanya aku yang tertinggal. Aku duduk sendiri di bangku depan sekolah, sampai akhirnya Ayah datang tergesa-gesa naik motornya yang bau oli. Tidak ada pelukan. Hanya “Maaf ya, Fan,” dan motor langsung melaju. Tapi hari itu, dia menanam pohon sebagai gantinya. Aku tak pernah tahu alasannya, sampai hari ini.

“Ayah tanam itu buat kamu. Supaya kamu tahu, ada sesuatu yang tumbuh karena kita mau belajar menebus kesalahan.”

Mataku memanas. Ayah memang jarang bicara, tapi sekali dia bicara, kata-katanya menancap seperti akar pohon yang dalam.

Tinggalkan Balasan