Beberapa hari di Jakarta terasa lebih asing dari biasanya. Suara klakson jadi lebih bising. Laptop terasa lebih dingin. Ada lubang kecil dalam dadaku yang tidak bisa kutambal dengan produktivitas atau notifikasi.
Sampai suatu hari, aku ditelepon oleh seorang teman lama.

“Fan, kemarin aku lihat Ayahmu di medsos komunitas lingkungan. Dia ikut bersih-bersih sungai, lho!” katanya.
Aku tercengang. “Hah? Serius?”
“Dia difoto lagi angkat karung sampah. Keren banget.”
Aku buru-buru buka akun komunitas itu. Dan benar—ada Ayah, mengenakan kaus putih polos, wajah berkeringat, berdiri di tepi sungai kecil dekat desa. Tersenyum. Untuk pertama kalinya, aku melihat Ayah di luar bayanganku. Dia bukan hanya ayahku. Dia bagian dari sesuatu yang lebih besar. Dan tetap diam, tapi bekerja.
Aku merasa malu. Selama ini, aku sibuk mencari dampak digital, lupa bahwa dampak paling nyata bisa dimulai dari sungai kecil yang kita lewati setiap hari.
Suatu sore, aku dan Ayah duduk lagi di teras. Kali ini, tidak dalam diam seperti dulu. Angin kota kecil kami membawa bau tanah basah dari hujan siang tadi. Ayah memegang cangkir teh, pelan-pelan menyeruput, lalu menoleh padaku.
“Kamu nggak bosan, Fan? Bolak-balik ke sini?”
Aku tertawa kecil. “Dulu iya. Sekarang nggak.”
Ayah mengangguk, matanya mengarah ke jalan depan. Anak-anak tetangga sedang main bola pakai sandal. Aku menatap mereka lama.
“Kadang aku mikir,” ujarku, “apa mungkin aku bisa sebaik Ayah?”
Ayah diam sejenak, lalu menjawab, “Kamu nggak perlu jadi seperti Ayah. Kamu cuma perlu jadi Arfan yang tahu pulang ke mana.”
Seketika dadaku sesak. Bukan karena sedih. Tapi karena aku baru benar-benar paham, bahwa yang Ayah wariskan padaku bukan rumah, bukan tanah, bukan pohon mangga. Tapi arah.
Sejak hari itu, aku tidak lagi menunggu momen besar untuk kembali. Aku datang saat bisa. Membawa cerita. Mendengar lebih banyak. Kadang aku temani Ayah ke sawah, kadang kami hanya duduk di warung kopi. Tak ada yang luar biasa. Tapi ternyata, kedekatan tidak butuh kejadian dramatis. Cukup hadir. Cukup mendengar. Cukup diam bersama.
Kini, kalau aku kembali ke kota, aku tidak lagi membawa rasa bersalah. Aku membawa wajah Ayah yang tersenyum di balik pagar, melambai singkat, seperti biasa.
Karena pada akhirnya, mungkin yang paling berarti dari seorang Ayah bukan kata-katanya, tapi keteguhannya menjadi rumah—meski kita sering lupa cara pulang.
