Akhirnya aku hanya bisa menyaksikan ia pergi. Mataku hanya bisa mengikhlaskan punggungnya yang habis di telan gelap. Dari balik gelap aku mendengar suara, “Idza ja’a ajaluhum fa la yasta’khiruna sa’atan wala yastaqdimun.” Aku tertegun mendengarnya. Apa yang kamu maksud? Apa maumu? Ah, dasar tenggorokanku tidak bersahabat. Suaraku seperti tercekal di tenggorokan.
***

Pelan-pelan aku membuka mata. Secercah cahaya lilin masuk ke retina mataku. Agak sedikit mengganggu. Aku mulai bisa menangkap cahaya di sekeliling. Samar-samar aku melihat wajah ibu yang kekuningan karena cahaya lilin. Ibu sepertinya masih tidur di sampingku. Sedetik kemudian mata ibu yang bergerak, tanda dia akan bangun. Pelan-pelan matanya mulai terbuka. Tatapannya langsung mengarah kepadaku. Dia tersenyum penuh arti.
“Syukurlah kamu sudah bangun,” kata ibu. “Kamu melihat apa tadi di belakang, kok sampai pingsan?” sambungnya. Aku hanya diam, mungkin karena malas atau tidak ingat, entahlah. Aku juga sudah lupa saat itu. Aku lebih memilih untuk mengumpulkan kesadaranku yang masih tercerai berai.
“Ayah belum kembali?” tanyaku pada ibu.
“Belum, dan hujan belum juga reda,” jawabnya.
“Sekarang sudah pukul berapa, Bu?” tanyaku.
“Entahlah, ibu juga tidak tahu. Coba kamu periksa di HP kamu!” perintahnya. Aku melihat jam di ponselku, di sana menunjukkan jam 17:00. “Ah, sepertinya aku hanya pingsan sebentar.”
“Bagaimana bisa kamu pingsan sebentar, ibu sudah menungguimu agak lama,” kata ibu.
“Masak?” tanyaku.
Aku mencoba melihat kalender. Rupanya kalender menunjukkan tanggal 17. Hah, tanggal 17 bagaimana bisa? Bukankah tadi masih tanggal 10? Kami terperanjat melihat tanggal yang terpampang di layar ponsel. “Bagaimana bisa? Kamu pingsan satu minggu?” tanya ibu.
“Berarti hujan ini sudah seminggu?” tanyaku balik kepada ibu dari saking kagetnya.
Aku segera mengahambur keluar untuk melihat keadaan. Ibu juga menyusul dari belakang. Langit masih saja gelap, hujan masih tetap mengguyur dengan anginnya yang semakin menjadi-jadi. Gemuruh guntur masih terdengar. Sesekali kilatan petir seperti hendak merobek langit.
Air rupanya sudah memenuhi halaman rumah kami. Hanya tinggal menunggu beberapa jam lagi rumah kami mungkin akan sukses di taklukannya. Aku melihat sekeliling, semuanya datar dengan air. Tak ada satupun rumah warga yang terlihat, semuanya sudah rata dengan air. Ah, bagaimana mungkin? Aku segera kembali memeriksa ponselku. Sial, aku hanya memperhatikan tanggal, lupa tak melihat bulan. Sekarang bulan Juni, persaan waktu itu seharusnya masih bulan Mei. Kakiku lunglai begitu saja. Aku tidak memiliki tenaga untuk menopang tubuhku.
