“Alfan!” Ibu berteriak panik dan dengan refleks segera menangkapku yang hampir jatuh kelantai.
“Bukan sehari semalam, Bu, tapi satu bulan. Satu bulan,” ucapku pada ibu terbata-bata. Ibu hanya mengernyitkan dahi tak paham apa maksudku. Aku segera mengulanginya lagi dengan lebih jelas. “Hujan ini, sudah sebulan, sekarang bulan Juni,” terangku.

“Astaghfirullah!” ucap ibu.
Pegangan ibu mulai melemah, membuat kami berdua jatuh ke lantai bersamaan. Tangan ibu dingin. Kami sama-sama membisu, entah mungkin karena sama-sama tidak percaya atau dari saking paniknya, aku juga tidak tahu.
Kebisuan kami dipecahkan dengan kilatan cahaya putih yang datang dari lagit yang menyambar muka kami. Aku melihat sesosok lelaki sedang berdiri dengan jubahnya yang serba putih, matanya berwarna merah menyala seperti api yang hendak membakar habis tubuhku. Belum sempat aku bergerak, orang itu sudah menyambar ke arah ibu, kemudian mengangkatnya beberapa depa dari tanah. Ibu hanya diam tak berkutik. Tubuhnya seperti kaku begitu saja. Aku juga demikian, kakiku seperti terbenam dalam es.
Entah berapa lama, aku masih tetap berada dalam kekakuan. Bibirku menjadi kelu, suaraku seperti tertahan di tenggorokan. “Sekarang tiba giliranmu!” ucap orang itu pada ibu. Aku berusaha menekan suaraku agar mau keluar dari tenggorokan.
“Kamu siapa?” Ah, sungguh begitu senangnya, akhirnya suaraku keluar juga dari tenggorokan. Orang itu hanya menyeringai melihatku. Ah seringainya yang rajam penuh dengan ejekan itu membuatku merinding.
“Akulah yang akan menjadikan istrimu janda, menjadikan anakmu yatim, menjadikan hartamu waris,” ucap orang itu kemudian disusul dengan tawanya yang membahana memenuhi langit.
Suaranya seperti sedang mencaciku. Aku seperti dihujam benda sedemikian beratnya. Sampai-sampai aku tenggelam. Tubuhku seperti bertambah berat beberapa ratus kilogram. Suara itu juga sukses membuatku semakin ciut. Aku merasakan tubuhku yang semakin menyusut seperti seukuran semut. Aku ingat, rasa ini juga yang aku rasakan tempo lalu. Dan orang ini pula yang aku temui waktu itu.
Tak salah, dia adalah orang yang kemarin. Dia juga yang akan memisahkanku dari segala-galanya. Siapa dia? Siapa yang bisa melakukan itu selain Azrail. Ya, dia Azrail, sang musuh bagi makhluk-makhluk yang bernyawa. Dia tak pernah puas, dia selalu siap merenggut kehidupan dari mana saja. Tiba-tiba aku merasakan napasku di ujung tenggorokan. Rongga dadaku seperti tak hendak menarik udara dari luar lagi. Hidungku seperti malas untuk menghirup udara yang manis di sekitarku.
Azrail tertawa menggelagar, dari mulutnya keluar kilatan petir merobek langit yang gelap. Dia menatapku dengan penuh keangkuhan. “Dasar munafik!” bentaknya.
Seluruh sendiku seakan tercerai-berai begitu saja. Seluruh tubuhku membeku. Jantungku seakan berhenti mempompa darah ke setiap rongga tubuhku. “Kau takut pada kematian atau kau takut untuk meninggalkan dunia ini? Kau takut meninggalkan kekasihmu, kau takut meninggalkan hartamu, kau takut kehilangan keluargamu dan teman-temanmu,” tudingnya kepadaku.
“Aku takut pada kematian,” jawabku sepontan.
Entah karena apa aku berani menjawab pertanyaannya. Dia kembali tertawa dengan suaranya yang semakin menggelegar. Tanah di kakiku bergetar, langit kembali dirobek oleh kilatan petir yang menggila. “Kamu takut mati, sebab di pikiranmu masih ada dunia, masih ada kekasih, masih ada keluarga dan teman-temanmu? Dasar munafik!” bentaknya kepadaku.
