Dengan “teori” itu, mem-profilling orang-orang super kaya yang mungkin kita kenal sebenarnya perkara gampang. Anda tinggal melihat sumber pendapatan dan penghasilannya. Jika sumber penghasilannya adalah bisnis, apalagi jaringan bisnisnya (konglomerasi) merambah ke sektor-sektor yang lagi booming, wajar seseorang menjadi kaya raya, super kaya.
Tapi jika ada seorang pegawai negeri atau pejabat pemerintah memiliki kekayaan yang jauh melampaui profil kepangkatan dan gajinya, hanya ada dua kemungkinan: memiliki sumber penghasilan lain, semisal punya bisnis tertentu, atau korupsi. Segampang itu jika ingin menelisik sumber kekayaan seseorang.

Tapi belakangan, “teori” dua jalan menuju kekayaan itu seakan dimentahkan oleh kehebohan soal babi ngepet yang akhir-akhir ini viral di media sosial. Rupanya ada “jalan ketiga” yang, diakui atau tidak, pernah menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang kita. Ada sumber kekayaan yang datangnya dari alam gaib.
Jika kita membaca buku berjudul Wali Berandal Tanah Jawa karya George Quinn, kita akan ingat bahwa kita, sebagai masyarakat bangsa, pernah mengalami hidup yang diwarnai dengan hal-hal seperti babi ngepet itu. Jejaknya masih ada dan terasa hingga kini. Dan bahkan masih dipraktikkan hingga kini.
Buku setebal 552 itu merupakan hasil riset George Quinn selama bertahun-tahun dengan mengunjungi ratusan tempat-tempat keramat atau makam orang-orang suci atau wali di Tanah Jawa. Memang, sebagian besar buku Quinn ini berisi tentang hal-ikhwal makam para wali atau orang-orang suci. Namun, ada satu bab terselip, yang berjudul “Dari Mana Asal Usul Uang”, yang berisi tempat sesajenan dan praktik pemujaan untuk mencari kekayaan melalui alam gaib atau kekuatan magis.

Hal lainnya lagi, sebuah wadah untuk memasukkan koin ke dalamnya disebut “celengan” yg berasal dari kata celeng yg artinya babi. Wih,,, adakah kaitannya dg celeng ngepet, eh maksudnya babi ngepet? Hee,,,