Praktik itu disebut mencari pesugihan. Quinn menceritakan salah satu keluarga di Madura yang memiliki anjing jadi-jadian —yang disadurnya dari sebuah novel berbahasa Jawa berjudul Prewangan Gunung Mandhalika. Tokoh utama dalam novel ini adalah orang miskin yang tidak tahan dengan kemiskinannya. Maka, ia pergi Gunung Mandhalika untuk mencari pesugihan. Di sanalah si tokoh membuat “kontrak” dengan kekuataan gaib yang bisa memberikan kekayaan yang diinginkan dengan beberapa syarat. Syarat pertama, anak kesayangan dari keluarga ini harus dijadikan tumbal. Syarat kedua, pada malam tertentu, si tokoh harus bersenggama dengan anjing jadi-jadian itu —tentu saja saat persenggamaan berlangsung si anjing berubah wujud menjadi perempuan.
Juwahir, si tokoh dalam novel ini, akhirnya memang menjadi orang paling kaya di desanya tanpa harus bekerja. Quinn kemudian menisbahkan kisah novel ini ke Gunung Kawi, tempat paling sohor untuk mencari pesugihan, hingga kini. Quinn pun mengunjungi Gunung Kawi di Jawa Timur pada abad ke-21 ini, dan ia menemukan begitu banyak orang masih memberikan persembahan untuk mencari pesugihan.

Dalam penjelajahan Quinn, ditemukan modus pesugihan itu beraneka ragam. Anjing jadi-jadian dan babi ngepet adalah di antara yang paling popular. Ada juga tuyul. Seperti hal babi ngepet, tuyul-tuyul ini dipelihara pencari pesugian untuk mencuri kekayaan dari orang lain.
Apakah soal pesugihan ini nyata? Jika mencermati buku Quinn ini, tampaknya hal-hal seperti itu nyata, atau dianggap nyata. Sebab, dalam buku ini, dengan jelas Quinn menyebut beberapa taipan Indonesia yang namanya sangat popular telah membangun dan memiliki tempat persembahan khusus di lereng Gunung Kawi. Nama-nama mereka juga tertera di sana. Sejauh ini, tak ada sanggahan atau bantahan terhadap buku Quinn.
Mungkin Quinn benar bahwa praktik mencari pesugihan seperti itu masih terjadi hingga di era milenial ini. Tapi kehebohan yang terjadi di Depok, Jawa Barat, akhir-akhir ini memberi satu pelajaran bahwa babi ngepet dan hal-hal sejenisnya bisa menjadi isu liar yang sangat menyesatkan. Bisa menjadi sumber fitnah dan ketegangan sosial. Terbukti, hewan naas yang dipotong lehernya itu toh hasil rekayasa dari seseorang.

Hal lainnya lagi, sebuah wadah untuk memasukkan koin ke dalamnya disebut “celengan” yg berasal dari kata celeng yg artinya babi. Wih,,, adakah kaitannya dg celeng ngepet, eh maksudnya babi ngepet? Hee,,,