Gambar Kitab Badai' ash-Shonai'

Badai’ ash-Shanai’, Kitab Nahu dari Sidogiri

“Lafaz Subhaana bisa ditinjau dari dua sisi: Pertama, lafaz subhana menjadi maf’ul mutlak bagi fi’il yang dibuang, yaitu أُسَبِّحُ I’rob-nya nashob dengan fathah dzohiroh sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surah ash-Shoffat ayat 159 “سُبْحَانَ اللّٰهِ عَمَّا يَصِفُوْن”  (Maha suci Allah dari apa yang mereka sifati). Yang dimaksudkan adalah Allah Maha Suci dari segala sesuatu yang tidak layak dengan-Nya, dan dari segala sifat yang tidak seyogyanya dinisbatkan pada-Nya. Lafaz Subhana ini tidak dipergunakan kecuali dalam kondisi di-mudlof-kan (disandarkan pada kalimat lain). Kedua, lafaz Subhaana bermakna an-nafsi (jiwa/diri), maka dari itu I’rob-nya menyesuaikan kedudukan dia di dalam jumlah. seperti contoh أَنْتَ أَعْلَمُ بِمَا فِيْ سُبْحَانِكَ أَيْ بِمَا فِيْ نَفْسِكَ  (engkau lebih mengetahui apa yang ada pada dirimu). Dalam hal ini, lafaz “subhaana” tidak lagi sebagai maf’ul mutlak yang ber-i’rob nashob melainkan ia ber-i’rob jar karena didahului oleh huruf jar. Terkadang, “subhaana” juga dipergunakan sebagai kalimat yang menunjukkan ta’ajjub (keheranan atau kekaguman), sepertiسُبْحَانَ اللّٰهِ مَا هٰذَا الجَمَال  (alangkah kagumnya aku akan ketampanan ini).”

Selain “Subhaana”, ada lafaz lain yang sering muncul di dalam kitab kuning, yaitu خاصة/خصوصا  seperti ibaroh yang ada di dalam Kitab al-Fatawi al-Kubra karangan Ibnu Hajar al-Haitami juz 1 halaman 166 berikut:

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

قَالَ ابْنُ الْعِمَادِ وَيُعْفَى عَنْ قَلِيلِ سَلِسِ الْبَوْلِ فِي الثَّوْبِ وَالْعِصَابَةِ بِالنِّسْبَةِ لِتِلْكَ الصَّلَاةِ خَاصَّةً .وَأَمَّا بِالنِّسْبَةِ لِلصَّلَاةِ الْآتِيَةِ فَيَجِبُ غَسْلُهُ أَوْ تَجْفِيفُهُ وَغَسْلُ الْعِصَابَةِ أَوْ تَجْدِيدُهَا بِحَسَبِ الْإِمْكَانِ.

“Air kencing sedikit yang tidak bisa ditahan keluarnya (karena beser) yang mengenai pakaian dan pembalut, hukumnya di-ma’fu (dimaafkan), itu hanya berkenaan khusus dengan salat yang sedang dijalani, adapun untuk salat selanjutnya maka wajib dibasuh/dibersihkan.”

Untuk menjawabnya, mari kita merujuk kitab Badai’ ash-Shonai’ halaman 47 berikut ibaroh-nya:

خَاصَّةً وَ خُصُوْصًا

(خاصّة) حال منصوب بالفتحة الظاهرة في نحو: أحبّ الفاكهة خاصّة العنب. أما إذا كانت مقرونة بالواو فإنّها تعرب مفعولا مطلقا لفعل محذوف تقديره “أخصّ”. وقد تجر نحو: أحبّ المطالعة وبخاصّة مطالعة الصحف. وهذا الإعراب يجري في إعراب (خصوصا) أيضا.

“Ladaz خاصة menjadi hal yang di-nashob-kan dengan fathah dzohiroh, seumpama contoh أُحِبُّ الفَاكِهَةَ خَاصَّةً العِنَبَ (aku menyukai buah-buahan khususnya anggur). Sedangkan, apabila lafaz خاصة diiringi dengan الواو (wawu), maka ia berubah kedudukannya menjadi maf’ul mutlak bagi fi’il yang dibuang, yaitu أَخُصُّ. Terkadang juga ia bisa dijarkan, seumpama أُحِبُّ المُطَالَعَةَ وَبِخَاصَّةٍ مُطَالَعَةُ الصُّحُفِ (aku senang muthola’nah, khususnya muthola’ah shuhuf). I’rob ini juga berlaku pada i’rob lafadz خصوصا .”

Nah, untuk yang terakhir ini susunan jar majrur (بِخَاصَّةٍ) menjadi khobar muqoddam dan kalimat مُطَالَعَةُ menjadi mubtada’ muakhkhor.

Tinggalkan Balasan