Uraian ini tentu hanya sedikit dari sekian banyak uraian yang ada di dalam Kitab Badai’ ash-Shonai’. Iika pembaca ingin mengetahui lebih lanjut isinya bolehlah mencarinya untuk dibaca-baca sekaligus menjadi koleksi perpustakaan.
Keistimewaan lain dari pada kitab ini, ia juga menghimpun nisbat-nisbat yang populer dari ulama, mulai dari halaman 197 sampai 241. Kumpulan nisbat-nisbat (al-Ansab) yang populer dari ulama ini dihimpun oleh Ustaz Musyaffa’ Siroj dari Sidogiri dan diberi nama an-Nujum az-Zahiroh fi Ma’rifati al-Ansab asy-Syahiroh.

Sungguh, mempelajari nisbat ulama ini sangatlah penting. Tak sedikit dari kalangan santri yang keliru dalam membacanya. Contoh nyata yang sering penulis jumpai, yaitu ketika ada sebagian santri membaca judul Kitab Hasyiyah al-Bujairimi dibaca Hasyiyah al-Bujairomi, padahal yang benar menurut kaidah tashghir (Tashghir sama halnya dengan Nasab, yang merupakan bagian dari pembahasan Ilmu Sharaf. Secara bahasa Tashghir berarti mengecilkan, sedangkan menurut istilah yaitu perubahan bentuk-bentuk kata dengan maksud tertentu) yaitu dibaca al-Bujairimi. Berikut ibaroh-nya:
البُجَيْرِمِيُّ بضمّ الموحّدة ثم فتح الجيم مع كسر الرّاء ومن قرأه بفتح الراء فلا أصل له لأنّها نسبة إلى بجيرم قرية بمصر مصغّرا. ومعلوم أنّ تصغير ما كان رباعيّا فأكثر ضم أوله وفتح ثانيه وزيد بعد ثانيه ياء ساكنة وكسر ما بعد الياء فتقول في دِرْهَمٌ دُرَيْهِمٌ وفي عُصْفُوْرٌ عُصَيْفِيْرٌ. قال في الخلاصة:
فُعَيلاً اجْعَلِ الثُّلاَثِيَّ إِذَا * صَغَّرتَهُ نَحوُ قُذَىٍّ فِي قَذَا
فُعَيْعِلٌ مَعَ فُعَيْعِيلٍ لِمَا * فاقَ كَجَعلِ دِرْهَمٍ دُرَيهِمَا
وممّن ينسب إليه الشيخ سليمان بن محمد بن عمر البجيرمي الشافعي له تحفة الحبيب على شرح الخطيب المسمّى بحاشية البجيرمي على الخطيب وله أيضا حاشية البجيرمي على شرح منهج الطلاب.
“Lafaz al-Bujairimi dengan dlommah ba’ –nya, kemudian fathah jim-nya, serta kasroh ro’-nya. Sedangkan, apabila ada orang yang membaca al-Bujairomi (ba’-nya dibaca fathah), maka dia tidak mempunyai dasar yang kuat dalam hal itu, karena al-Bujairimi merupakan nisbat kepada Bujairim (di-tashghir) sebuah desa di Mesir. Telah jamak diketahui bahwa tashghir isim ruba’i (empat huruf) atau lebih yaitu dengan cara huruf pertama di-dlommah-kan, huruf kedua di-fathah-kan, dan setelah huruf kedua ditambah ya’ sakinah (sukun), dan huruf setelah ya’ di-kasroh-kan.
Secara umum, wazan tashghir ada tiga sebagai berikut: Tsulatsi: فُعَيْلٌ contoh عَبْدٌ: عُبَيْدٌ – جُنْدٌ: جُنَيْدٌ,Ruba’iy, dan seterusnya: فُعَيْعِلٌdan فُعَيْعِيْلٌ. Contoh دِرْهَمٌ: دُرَيْهِمٌ، دِيْنَارٌ: دُنَيْنِيْرٌ. Ulama yang dinisbatkan kepada Bujairim ini adalah asy-Syaikh Sulaiman bin Muhammad bin Umar al-Bujairimi asy-Syafi’i dengan masterpiece Kitab Tuhfatul Habib ‘ala Syarh al-Khotib yang biasa kita sebut Hasyiyah al-Bujairimi ‘ala al-Khotib dan Kitab Hasyiyah al-Bujairimi ‘ala Syarh Manhaj ath-Thullab.”
