Bagaimana Penyair Bekerja

Ketika penulis mendengar kisah tentang Chairil Anwar yang dituliskan oleh Sjuman Djaya, digambarkan ia (Chairil Anwar) suka keluyuran ‘menembus malam’, duduk sepi di pinggir rel kereta sambil suntuk membaca buku, berjalan entah ke mana, memikirkan kata setiap saat baik sendiri atau bersama orang lain, mencatat frasa-frasa sambil mengucap-ucapkannya, menerjemah puisi berbahasa asing, mencuri buku yang menarik, dst.

Sederet kebiasaan itu tentu tidak lazim bagi kebanyakan orang, dan terkesan seperti tidak ada kerjaan. Tapi hal yang sama pun berlaku pada penyair-penyair di belahan dunia lain, sebut saja John Keats yang suka mengamati tumbuh-tumbuhan, bebungaan, serangga, lebah, dst. Atau Walt Withman yang menyukai rumpun bunga di taman-taman atau Robert Frost yang mencintai perjalanan dan hutan, atau Pablo Neruda yang suka berjalan di tepi pantai untuk memperhatikan laut, dll.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Para penyair itu memang terkesan aneh kelakuannya, dan itulah salah satu yang sering menjadi rasa penasaran kita. Lantas apakah semua kebiasaan itu akan bisa membantu kita menyusun kata dan menggubahnya menjadi sajak? Tentu saja terlalu terburu-buru untuk menjawabnya sekarang.

Cerita yang lain tentang penyair-penyair Yogya saat PSK (Persada Studi Klub) masih hidup, sebuah perkumpulan penulis-penyair-seniman yang diasuh oleh Umbu Landu Paranggi, dkk, pun mempraktikkan kebiasaan yang cukup aneh macam Chairil itu, yaitu berjalan ‘menembus malam’ menyusuri lorong-lorong kota Yogya di Malioboro, muter entah ke mana, dan mungkin akan terkesan hanya itu kah pekerjaannya? Apa makna semua itu?

Bahkan salah seorang penyair PSK bernama Suwarni P, tertelan ombak Parangtritis dan hilang tak ditemukan sampai sekarang dan tak diketahui di mana jasadnya. Beliau penyair yang mempraktikkan Yoga dan memasukkan unsur-unsur penghayatannya dalam puisi-puisinya.

Tinggalkan Balasan