Namun kini, di masa damai dan era digital, justru bahasa kita seperti kehilangan tempat di rumahnya sendiri. Padahal, bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai dan merawat bahasanya. Jepang tetap bangga dengan bahasanya meski menjadi negara industri maju. Korea Selatan mengekspor budayanya ke seluruh dunia melalui drama dan musik tanpa meninggalkan bahasa ibunya. Lalu, bagaimana dengan kita?
Masa depan bahasa Indonesia ada di tangan kita, terutama generasi muda. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar tidak berarti anti-globalisasi. Justru, ini adalah bentuk cinta tanah air yang paling sederhana namun berdampak besar. Menjadi warga dunia memang penting, tetapi jangan sampai itu membuat kita lupa jati diri sebagai anak bangsa. Karena sejatinya, bahasa bukan sekadar alat tukar kata—ia adalah wajah kita di hadapan dunia.

Namun kini, muncul sebuah gejala yang memprihatinkan—penggunaan bahasa yang kian sembrono, kasar, bahkan manipulatif di ruang publik. Di media sosial, di layar kaca, hingga dalam percakapan sehari-hari, bahasa tak lagi dijaga sebagai alat pemersatu, tetapi sering kali dijadikan senjata untuk menyerang, menyindir, dan menjatuhkan. Bahasa dijadikan kendaraan untuk menyebar hoaks, provokasi, hingga ujaran kebencian. Nilai etis yang seharusnya menyertai tutur kata seolah terabaikan. Padahal, sejatinya bahasa bukanlah alat penghinaan, melainkan jalan untuk memuliakan sesama.
Di titik inilah, penting bagi kita untuk menumbuhkan kembali kesadaran kolektif: bahwa merawat bahasa adalah bagian dari merawat karakter bangsa. Bahasa yang santun mencerminkan masyarakat yang beradab. Bahasa yang jujur mencerminkan jiwa yang bermoral. Dan bahasa yang indah mencerminkan bangsa yang tinggi peradabannya. Bukan hanya soal estetika bunyi, tetapi tentang substansi nilai dan jiwa bangsa yang tercermin di dalamnya.
