Pagi itu, di serambi Masjid Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, terdengar percakapan unik. Santri bernama Ahmad bertanya kepada temannya, Hasan, dalam bahasa Arab, “Hal fahimta ad-darsa al-yaum?” (Apakah kamu paham pelajaran hari ini?). Hasan menjawab, “Fahimtu qalilaan, laakin mushkilah fi an-nahwi” (Saya paham sedikit, tapi ada masalah di nahwu).
Beberapa meter dari mereka, Kiai Bisri sedang mengajar kitab Fathul Qarib. Suaranya mengalun dalam bahasa Jawa halus, “Niki, kitab niki nerangaken hukume wudhu. Utawi iku kudu nganggo banyu suci…” (Ini, kitab ini menjelaskan hukum wudhu. Atau itu harus menggunakan air suci…). Santri-santri duduk melingkar, menuliskan makna dengan aksara Arab Pegon di sela-sela teks kitab kuning.

Ketika waktu istirahat tiba, mereka berbincang santai dengan bahasa Indonesia. “Eh, nanti sore ada jadwal muhadharah ya? Kamu siap pidato belum?” tanya Ahmad. Dalam satu hari, tiga bahasa berbeda mengalir dengan harmonis, tanpa kebingungan, tanpa konflik. Inilah fenomena unik yang hanya bisa ditemukan di pesantren Indonesia.
Tiga Bahasa, Satu Ekosistem
Di pesantren tradisional Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur, fenomena trilingual ini bukan anomali, melainkan kenyataan sehari-hari. Bahasa Arab digunakan untuk membaca kitab klasik, bahasa Jawa untuk menerjemahkan dan menjelaskan, sementara bahasa Indonesia dipakai untuk komunikasi formal dan pembelajaran umum.
Pesantren salaf memandang bahasa Jawa bahkan lebih lengkap dan komprehensif menggambarkan status gramatikal struktur bahasa Arab dalam kitab kuning dibandingkan dengan bahasa lain. Ini bukan sekadar preferensi, melainkan kesimpulan ilmiah berdasarkan pengalaman ratusan tahun mengajarkan kitab.
Penggunaan aksara Pegon di pesantren salaf telah menjadi tradisi yang mengakar cukup kuat. Hampir setiap hari santri selalu berinteraksi dengan sistem penulisan Pegon, baik dalam bentuk pembacaan maupun penulisan. Aksara ini adalah jembatan sempurna antara Arab dan Jawa, sebuah inovasi linguistik yang lahir dari kebutuhan dakwah.
Aksara Pegon: Ketika Arab Menikahi Jawa
Pegon berasal dari “pego”, kata bahasa Jawa yang memiliki arti menyimpang atau tidak lazim. Mengapa demikian? Karena tidak dapat disebut aksara Arab murni, juga bukan aksara Jawa. Dalam ilmu filologi, Pegon adalah aksara Arab yang dimodifikasi untuk menulis bahasa Jawa.
Secara historis, dalam catatan mayoritas sarjana Muslim, Arab Pegon pertama kali muncul sekitar tahun 1400 M yang dirintis oleh Raden Rahmat atau karib disapa Sunan Ampel di Pesantren Ampel Denta Surabaya. Ada pendapat lain yang menyebut penggagasnya adalah Sunan Gunung Jati Cirebon, atau Imam Nawawi al-Bantani. Yang pasti, aksara ini lahir dari kebutuhan dakwah yang sangat praktis.
Alhasil, alfabet Arab-Pegon secara keseluruhan berjumlah 35 huruf, di mana tujuh di antaranya adalah hasil modifikasi. Di antaranya: jim (c), dal (dha),tha’ (tho), fa’ (p), ‘ain (ng), kaf (g), dan ya’ (ny) dengan masing-masing ditambahi menjadi tiga titik. Untuk vokal “e”, digunakan harakat khusus seperti mad namun dengan lengkungan lebih panjang dan ditulis agak miring.
Yang menakjubkan, sampai-sampai orang yang asli Arab sendiri tidak bisa membaca aksara Pegon, meskipun sama-sama dengan huruf Arab. Ini membuktikan bahwa Pegon adalah sistem penulisan yang benar-benar unik dan orisinal Nusantara.
Maknani: Seni Menerjemahkan Kata
