Maknani atau yang juga disebut ngabsahi merupakan tradisi memberikan makna kata per kata ke dalam bahasa lokal. Tradisi yang full menggunakan aksara Jawi-Pegon ini mampu mempercepat pemahaman bahasa Arab karena memiliki kode gramatikal dan morfologi “nahu-saraf” bahasa Arab.
Dalam maknani, ada kode م yang berkedudukan sebagai mubtada’, ada kode خ yang berkedudukan khabar. Selain kode I’rab, dikenal juga kode rujuk, yang mempermudah keterangan dhamir sebelumnya. Sistem ini mengajarkan santri tidak hanya arti kata, tetapi juga struktur gramatikal kalimat Arab.

Proses penerjemahan oleh santri itu biasanya disebut ngesahi/maknani, ‘memberi tanda baca/memberi arti’. Ngesahi ‘menerjemahkan’ setiap kata Arab dengan cara menulis miring ke bawah (kira-kira 45º) sehingga sering disebut makna gandhul atau ‘terjemah menggantung’ atau makna jenggot karena ‘menjulur seperti jenggot’.
Tradisi ini menciptakan tipe bahasa Jawa khusus yang disebut bahasa Jawa-Kitabi, bahasa Jawa yang digunakan untuk memberi makna kitab-kitab yang dipelajari oleh santri. Dari segi bahasa terjemahan, bahasa Jawa-Kitabi mengacu pada tata bahasa Arab. Inilah yang membuat bahasa Jawa-Kitabi berbeda dengan bahasa Jawa biasa.
Yang menarik, bahasa Jawa-Kitabi tidak mengenal tingkatan. Bahasa Jawa di pesantren bercorak campuran antara bahasa Jawa krama dan ngoko. Ini berbeda dengan bahasa Jawa di luar pesantren yang sangat ketat dengan unggah-ungguh atau tingkatan bahasa.
Kiai Soleh Darat dan Literasi Pegon
Pada abad ke-19, Kiai Soleh Darat (w. 1903) merupakan penulis paling produktif dari pesantren yang banyak menggunakan bahasa Jawa dan aksara Pegon dalam karya-karyanya, seperti Kitab Majmu’ yang mengupas masalah fikih dan Jauhar al-Tauhid dalam bidang akidah.
Karya-karya Mbah Soleh terkenal di kalangan santri Melayu, dan kebanyakan karyanya konon diterbitkan di Mumbai, India. Ini menunjukkan bahwa literasi Pegon bukan fenomena lokal, melainkan bagian dari jaringan intelektual Muslim internasional.
Setelah Mbah Soleh, tradisi literasi Jawa diteruskan oleh Mbah Bisri Rembang dengan karya populernya dalam bahasa Jawa dan Pegon, Tafsir Ibriz, lalu ada Mbah Misbah Bangilan, Mbah Muslih Mranggen, Mbah Hamid Kendal,dan lainnya. Tafsir Ibriz adalah karya monumental, tafsir Al-Qur’an lengkap 30 juz dalam bahasa Jawa menggunakan aksara Pegon.
Toleransi Budaya dalam Linguistik
Harmoni tiga bahasa di pesantren adalah cerminan toleransi budaya yang sangat dalam. Tidak ada hierarki bahasa. Arab tidak dianggap lebih superior dari Jawa. Jawa tidak dipandang rendah dibanding Indonesia. Ketiganya hidup berdampingan, masing-masing dengan fungsi dan konteksnya.
Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama, Muhammad Ali Ramdhani, menjelaskan bahwa menulis menggunakan aksara Arab Pegon memiliki tingkat kesulitan tersendiri karena aksara Arab Pegon ini terbilang unik. Ia merupakan perpaduan antara aksara Arab dengan beberapa huruf lokal yang bunyinya tidak ada dalam bahasa Arab, seperti huruf C, E, Ny, Ng, dan G.
Kiai Waryono Abdul Ghafur, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, menyatakan bahwa pergumulan santri dengan berbagai bentuk teks mempengaruhi cara pandang sensitivitas santri dalam mengenali konstruksi kedaerahan tertentu untuk juga menjaga keragaman di pesantren. Kepekaan bahasa kaum santri menegaskan tradisi lingua franca yang perlu dimaknai ulang.
