Mengapa Bukan Bahasa Indonesia?
Pertanyaan pun muncul: Mengapa tidak ada pesantren salaf yang memberikan makna harfiah dengan menggunakan bahasa Indonesia? Agaknya memang harus diakui, kosakata bahasa Indonesia tidak sekaya bahasa Jawa sehingga sampai sekarang belum ada orang yang memberikan makna kitab kuning dengan bahasa Indonesia.

Bahasa Jawa memiliki kekayaan kosakata yang sangat presisi untuk menjelaskan nuansa makna Arab. Istilah-istilah fikih, tasawuf, dan teologi Islam dalam bahasa Arab menemukan padanan yang pas dalam bahasa Jawa. Ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari proses islamisasi Jawa yang berabad-abad.
Selain itu, bahasa Jawa memiliki struktur gramatikal yang lebih mendekati bahasa Arab dibanding bahasa Indonesia. Konsep dhamir (kata ganti), isim (kata benda), fi’il (kata kerja) dalam bahasa Arab menemukan ekuivalensi yang lebih jelas dalam bahasa Jawa.
Pegon: Tradisi yang Terancam?
Meski aksara Jawi-Pegon masih digunakan, namun tradisi ini mulai terancam. Generasi muda santri lebih tertarik pada bahasa Inggris dan teknologi digital. Banyak pesantren modern yang meninggalkan tradisi maknani dengan Pegon.
Namun ada upaya pelestarian. Pondok Pesantren Nahdlatul Ulama Kota Tegal mentradisikan penggunaan Pegon sebagai tulisan primer dalam kegiatan belajar mengajar. Santri baik putra maupun putri dalam prosesnya diwajibkan untuk menguasai pembacaan dan penulisan aksara Pegon.
Kementerian Agama juga mendorong integrasi Pegon dalam pelajaran bahasa Arab di madrasah. Kongres Aksara Pegon digelar pada Oktober 2022 sebagai bagian dari peringatan Hari Santri, diikuti oleh pegiat Pegon, akademisi, peneliti, dan pimpinan pesantren.
Masa Depan Multilingual Pesantren
Di era globalisasi, kemampuan multilingual santri menjadi aset sangat berharga. Alumni pesantren yang menguasai Arab, Jawa, Indonesia, ditambah Inggris, memiliki keunggulan kompetitif luar biasa. Mereka bisa bekerja di Timur Tengah, menjadi diplomat, penerjemah, atau akademisi internasional.
Yang lebih penting, multilingual pesantren mengajarkan nilai toleransi dan apresiasi terhadap keragaman. Ketika santri terbiasa berpindah-pindah bahasa, mereka juga belajar berpindah perspektif. Mereka memahami bahwa ada banyak cara melihat dunia, banyak cara mengekspresikan kebenaran.
Fenomena tiga bahasa di pesantren adalah bukti bahwa Islam Nusantara sejak awal bersifat inklusif dan adaptif. Islam tidak menghapus budaya lokal, melainkan berdialog dengannya. Arab tidak menggantikan Jawa, keduanya saling memperkaya.
Sumber:
- Ponpesnutegal.com – “Pegon” (2025)
- NU.or.id – “Ali Ramdhani: Aksara Pegon, Sarana Dakwah di Pesantren” (2022)
- Lampung.nu.or.id – “Sejarah Penggunaan Aksara Pegon dan Proses Penyebarannya” (2022)
- Lirboyo.net – “Mengenal Aksara Pegon” (2018)
- Liputan6.com – “Apa Itu Huruf Arab Pegon? Ini Penjelasan dan Sejarahnya” (2025)
- Beritakita.net – “Bahasa Jawa di Pesantren”
- Alif.id – “Aksara Pegon, Maknani dan Perkembangan Literasi Santri” (2019)
- Jaringansantri.com – “5 Hal yang Tidak Disadari Santri Tentang Aksara Jawi-Pegon” (2018)
