Meski begitu, Bahtsul Masail bukanlah puncak dari segalanya. Ia adalah salah satu metode, bukan tujuan akhir. Saya melihat ada kecenderungan tekstual-formalistik dalam beberapa forum yang menjadikan turāṯ semata sebagai gudang jawaban. Padahal, yang lebih penting adalah menggali turāṯ sebagai madrasah berpikir, bukan hanya sebagai kumpulan fatwa siap saji.
Dalam menghadapi modernitas, kita ditantang untuk membangun jembatan antara turāṯ dan isu kontemporer. Jika hanya terpaku pada teks, kita bisa terjebak dalam kebekuan. Jika hanya mengandalkan logika modern, kita bisa tercerabut dari akar tradisi. Maka, meminjam istilah Kiai Afifuddin Muhajir, yang dibutuhkan adalah kemampuan membedakan, antara tsawābit (yang tetap) dan mutaghayyirāt (yang berubah), serta keberanian untuk memanfaatkan metodologi ulama klasik guna menjawab tantangan baru.


Sebagai santri yang memilki metodologi musyawaroh dan bahtsul masail sangat terbantu dan terpengaruh oleh paradigma yang ada di kegiatan tersebut menjadikan akal ini tidak hanya selalu mengandalkan rasionalitas saja tapi ada yang jauh tidak dapat dijangakau oleh itu dan ini menjadi tradisi yang mengakar kuat dalam diri dan perilaku hingga kini saya percaya bahtsul masail dan musyawaroh adalah tradisi yang akan tetap masif ditengah perdaban yang sangat pesat ini sampai masa depan nanti.