“Apa yang mau kau buktikan? Apakah kau mau membuktikan bahwa kau keras hati tetap membela keangkaramurkaan junjunganmu, Duryudana.”
Karna tidak membalas pertanyaan Janaka, langsung membidikan anak panah ke arah Janaka. Tiba-tiba awan hitam pun turun, ini pertanda Batara Indra turun melindungi Janaka. Batara Surya pun turun dalam wujud cahaya terang yang akan menyibak awan gelap yang melindungi Janaka.

Kali ini, Karna mencari celah-celah di antara awan hitam yang menyelimuti Janaka. Ia membidik leher Janaka dengan anak panahnya. Karna yakin kali ini tak akan meleset. Ketika anak panah dilepaskan, Salya, kusir Karna, sekaligus ayah mertua Karna, mengentakkan kakinya ke kereta dengan segenap kekuatannya. Entakan kaki Salya membuat kereta Karna bergoyang. Anak panah Karna yang seharusnya memenggal kepala Janaka hanya mengenai mahkota Janaka.
“Apa maksud ayah mertua mengentak kaki tadi?”
“Kau telah mengecewakanku. Kau menurunkan derajatku dari seorang Raja Mandaraka menjadi kusirmu. Gara-gara aku tidak sependapat kepadamu tentang cara-cara licik yang digunakan oleh junjunganmu Duryudana.”
Hati Karna semakin kalut, saat perang tanding semakin memanas.
“Jika ayah tidak setuju dengan cara kami berperang, maka turunlah, tidak usah menjadi kusir saya.”
Tanpa banyak bicara Salya menghentikan keretanya. Kemudian turun.
Selang beberapa langkah, Puntadewa mengadang Salya untuk mengajaknya perang tanding.
Krisna memanfaatkan kesempatan ini, membelokkan keretanya keluar dari keramain sekaligus memancing Karna berpisah dengan Salya, Duryudana, dan Sengkuni.
Krisna juga tahu karena entakan kaki Salya, roda kereta Karna mulai rapuh. Dengan mengajaknya berkejar-kejaran mengendarai kereta pasti as roda kereta Karna pasti akan patah.
Kereta Karna membututi kereta Janaka di sisi Kurusetra yang berbatu serta bergelombang. Tak perlu lama, patahlah as kerata Karna. Karna meloncat dari kereta, semua kuda kereta Karna tersungkur. Hati Karna semakin bergejolak terbakar api amarah. Karna langsung mengambil roda keretanya yang terlepas. Saat itulah Krisna menyuruh Janaka untuk membidik Karna dengan pasopatinya.
“Janaka, bidikan pasopatimu ke arah Karna!”
“Apakah itu bukan berarti aku licik, karena menyerang orang yang tidak bersenjata?”
“Apakah Karna tidak licik ketika membiarkan anakmu, Abimanyu dibantai tanpa ampun oleh Kurawa? Apakah Karna tidak licik ketika membiarkan Drupadi dilucuti pakaiannya saat kalah main judi? Karna angkat gandiwamu!”
“Biarkan aku memasang roda kerataku dahulu! Agar perang tanding ini berlaku adil.”
“Sampai kapan kamu akan memasang rodamu, sebentar lagi sang surya akan terbenam!”
“Baiklah Krisna, itu maumu!”
Karna mengambil gandiwanya, mulai membaca mantra bramastra yang pernah diajarkan oleh Begawan Ramaparasu. Tiba-tiba Karna lupa sama sekali. Ia beralih mencoba memangil senjata wijayadanu, tapi juga lupa mantranya. Semua mantra aji yang dia pelajari seolah lenyap.
“Cepatlah kau lepaskan pasopatimu Janaka. Sudah terlalu lama kau membidik dan terdiam. Lihatlah surya mulai tenggelam.”
“Tunggu Janaka, biarkan aku mengingat mantraku dan merapalnya.”
Tiba-tiba Karna teringat perkataan Begawan Ramaparasu, bahwa kelak jika Karna menghadapi musuh bebunyutannya ia akan lupa semua mantra aji.
“Apa yang kau pikirkan Karna?” tanya Krisna seolah menguji Karna.
“Kau selama ini menganggap berutang budi kepada Duryudana bukan? Padahal selama ini kau berjalan di atas ketidakbenaran. Mendukung semua kelicikan Duryudana dan Sengkuni. Padahal hati nurani mengingkari. Padahal Prabu Salya sudah menasihati. Padahal Ratu Kunti sudah mengingatkanmu berkali-kali. Kemarin malam, sebelum kau memutuskan kau membela Kurawa, aku juga mengajakmu bertobat, tapi kau bersikukuh dengan balas budimu kepada Kurawa.”
Karna tidak membalas ucapan Krisna, tetapi hati dan pikirannya sadar bahwa yang dilakukan selama ini salah. Ia menyesal tapi telanjur malu karena kalah perang tanding dengan Janaka. Ia menipu Janaka dengan cara mencoba membidik adiknya, Janaka. Bidikan itu bidikan palsu, ia hanya menakut-nakuiti Janaka. Tujuan Karna agar Janaka memanahnya dengan pasopati.
Janaka melepaskan pasopati ke arah leher Karna. Pasopati melesat ke arah Karna. Tanpa ampun pasopati menebas leher Karna.
