Banyak Jalan Menjadi Wali

Suatu malam, Fudhail berniat merampok sebuah kafilah. Saat mendekati kafilah tersebut, dia mendengar seseorang membaca ayat Al-Qur’an: “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)?” (QS. Al-Hadid: 16).

Ayat ini langsung menusuk hatinya. Fudhail merasa seolah ayat tersebut ditujukan langsung kepadanya. Hatinya bergetar dan dia merasa sangat menyesal atas segala perbuatannya selama ini. Fudhail kemudian memutuskan untuk bertaubat dengan sungguh-sungguh. Dia meninggalkan kehidupan perampokan dan mulai mencari ilmu agama.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dia belajar kepada banyak ulama besar pada zamannya dan menghabiskan waktunya untuk ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Taubatnya yang sungguh-sungguh dan tekadnya untuk berubah membuatnya dihormati oleh banyak orang. Fudhail bin Iyadh kemudian menjadi ulama besar dan seorang sufi terkenal. Dia dikenal karena ketakwaannya, zuhudnya (menjauhi dunia), dan kebijaksanaannya. Banyak orang datang kepadanya untuk belajar dan mendengar nasihatnya.

Kemudian ada kisah yang sering diangkat sebagai contoh tentang seseorang yang awalnya baik namun kemudian menjadi orang yang paling buruk di sisi Allah, yaitu kisah Bal’am bin Ba’ura. Ini adalah kisah dari Al-Qur’an dan hadis yang memberikan pelajaran penting tentang bahaya kesombongan dan ketidaktaatan kepada Allah.

Bal’am bin Ba’ura adalah seorang alim yang hidup pada zaman Nabi Musa AS. Dia dikenal sebagai seseorang yang sangat dekat dengan Allah, memiliki ilmu yang luas, dan doanya sering kali dikabulkan. Bal’am adalah sosok yang dihormati oleh kaumnya karena kesalehan dan ilmunya. Namun, kehidupan Bal’am berubah drastis ketika dia menghadapi ujian besar.

Pada suatu ketika, Nabi Musa AS dan kaumnya hendak melewati suatu wilayah yang dikuasai oleh kaum yang jahat. Pemimpin dari kaum ini mengetahui bahwa doa-doa Bal’am sangat mustajab, sehingga dia memohon kepada Bal’am untuk mendoakan keburukan bagi Nabi Musa AS dan kaumnya.

Awalnya, Bal’am menolak karena dia tahu bahwa Nabi Musa AS adalah utusan Allah dan doanya yang buruk akan melanggar perintah Allah. Namun, setelah diberikan berbagai godaan, hadiah, dan janji-janji duniawi oleh pemimpin kaum tersebut, Bal’am akhirnya tergoda dan menerima permintaan itu.

Dia pun mulai mendoakan keburukan bagi Nabi Musa AS dan kaumnya. Allah SWT sangat murka dengan tindakan Bal’am. Allah mencabut berkah dan karunia yang telah diberikan kepada Bal’am. Dia jatuh dalam kesesatan yang sangat dalam dan akhirnya menjadi orang yang hina di sisi Allah. Bal’am, yang dahulu dikenal sebagai orang yang sangat dekat dengan Allah, berubah menjadi sosok yang paling buruk karena kesombongan dan ketidaktaatannya.

Kemudian, ada Fudhail bin Iyadh, satu bukti dari begitu banyak bukti bahwa manusia yang diberikan anggukan kebaikan oleh Tuhan. Semudah itu Allah mengubah tingkah laku seseorang, tak dapat dimungkiri lagi karena Allah adalah seorang penulis buku dan kita adalah tokoh dalam buku yang sedang ditulis oleh-Nya. Buruk atau baiknya seorang tokoh ada pada kehendak si penulis. Begitulah cara kita melihat kehidupan yang fana ini, kita hanya bisa bertawakal, selalu berusaha, dan bermujahadah untuk menjadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Tinggalkan Balasan