Bal’am bin Ba’ura juga menjadi bukti yang sama akan kehendak Tuhan. Seseorang ahli ibadah yang doanya selalu diijabah malah berakhir di depan kemurkaan Allah. Tiada yang tahu akan segala hal yang akan terjadi pada seseorang karena meski seseorang terlihat baik, belum tentu ia mendapatkan khusnul khatimah.
Bahkan Nabi kita yang menjadi panutan seluruh umat muslim, meskipun ia telah diberi jaminan surga, terbebas seratus persen dari neraka, bahkan jaminan-jaminan yang diberikan Allah sangat banyak sampai amber-amber dan menjadi syafa’at yang beliau berikan kepada umatnya. Ada hadis yang menyatakan demikian, yakni hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو، ” اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي .
Artinya: Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdoa, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu khusnul khatimah, terhindar dari siksa kubur dan dari siksa neraka, dan aku memohon kepada-Mu untuk diangkat menjadi pertemuan yang paling baik dan surga yang paling baik.” (HR. Muslim).
Ada sebuah kisah yang menceritakan tentang seorang hawariyyin—ulama yang juga pengikut Nabi Isa AS—yang sedang berada dalam perjalanan. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang preman. Preman tersebut mencoba mendekati sang ulama karena ia sangat kagum kepadanya. Namun, sang ulama semakin mempercepat jalannya karena tak mau didekati oleh preman tadi. Maka Allah memberikan wahyu kepada Nabi Isa AS, bahwa ulama dan preman tadi akan memulai hidup dari awal lagi —seperti bayi yang baru dilahirkan— yang baru. Sang ulama dihapus segala amal kebaikannya karena keangkuhan yang ia lakukan, sedangkan si preman dihapus segala dosanya karena memuliakan ulama.
Tentang su’ul khatimah sendiri, Nabi Muhammad memberikan penjelasan dalam hadisnya yang berbunyi: إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّهُ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
Artinya: “Sesungguhnya ada seseorang yang beramal dengan amalan ahli neraka, padahal dia termasuk ahli surga; dan ada seseorang yang beramal dengan amalan ahli surga, padahal dia termasuk ahli neraka. Sesungguhnya amal itu tergantung pada penutupnya.” (HR. Bukhari No. 6493).
Hadis ini mengingatkan kita bahwa penilaian akhir terhadap seseorang bukanlah hanya berdasarkan amal perbuatannya yang terlihat selama hidup, tetapi sangat tergantung pada bagaimana akhir hidupnya. Oleh karena itu, sangat penting untuk senantiasa memohon kepada Allah agar diberikan khusnul khatimah.
Dari hadis tersebut kita tahu bahwa sesungguhnya kita hanya bisa pasrah kepada takdir Allah dan kita juga hanya bisa berdoa agar kelak kita termasuk orang-orang yang khusnul khatimah. Jangan pernah mengandalkan amal baik kita karena sesungguhnya yang menarik kita ke dalam surga adalah rahmat Allah SWT semata, bukan karena amal-amal yang tertata.
