Banyak Jalan Menuju Tuhan

Bagaimana mungkin ratusan menjadi satu? Siapa yang berpikir begitu sesungguhnya dia gila

Meskipun banyak jalan yang ditempuh manusia, tujuannya adalah sama. Tidakkah engkau melihat itu? Berapa banyak jalan untuk sampai ke Kakbah (dimaknakan sebagai tempat bersemayam Tuhan). Sejumlah orang datang dari Anatolia. Sebagian dari Damaskus. Orang lain dari China. Sebagian yang lain menyebrang dari India melewati Yaman. Jika engkau melihat jalan-jalan itu. Perbedaan kelihatannya sangat besar dan tidak terbatas. Tetapi ketika engkau menengok tujuannya. Engkau melihat bahwa smmua jalan itu menuju Kakbah. Tempat di mana tidak ada ruang untuk berselisih. Kedekatan itu bukan kekafiran ataupun iman. Tegasnya tidak dikacaukan dengan perbedaan cara yang telah kita bicarakan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Syair-syair Jalaluddin Rumi di atas dengan tegas menjelaskan bahwa jalan menuju Tuhan tidaklah hanya satu yang paling benar dan dikehendaki Tuhan. Layaknya berkunjung ke Mekkah untuk melaksanakan haji, ada yang menempuh melalui jalur udara, darat, laut, dan masing-masing jalur  dengan rute yang berbeda pula. Pluralitas keagamaan sejatinya telah berakar dalam realitas Tuhan itu sendiri, yaitu kehendak-Nya.

Begitu pula sebagai muslim, dalam Al-Qur’an secara ontologis berasal dari Tuhan dan membawa implikasi positif terhadap manusia, bahwa di dalamnya memuat kabar keleluasaan manusia memperdalam pencariannya terhadap Dzat Yang Agung, lalu memahami hakikat-Nya.
Tidak hanya dalam Islam, setiap agama apa pun mengajarkan demikian dalam laku syariatnya. Pemahaman yang demikian akan membentuk karakter, cara berpikir, keyakinan, dan sikap manusia tidak lagi merasa dirinya paling benar dalam menempuh jalan menuju Tuhan. Khaled Aboul El-Fadl, dalam karyanya dengan judul The Place of Tolerance in Islam, mengatakan bahwa tidak dibenarkan dalam Islam sikap yang saling menyalahkan dan menganggap dirinya paling benar.

Hal ini tidak hanya berlaku pada Islam semata, namun pada agama lain. Banyak jalan menuju Tuhan, dan ukuran sampai atau tidaknya pada Tuhan tidak ditentukan oleh jalan yang ditempuh, akan tetapi berasal dari bagaimana usaha seorang manusia dalam mencari dan memahami Tuhan yang Maha Segala.

Tinggalkan Balasan