Bedah Tanbihun Nahdliyyin, Santri Diajak Jaga Tradisi Literasi

Tradisi literasi pesantren kembali diteguhkan melalui kegiatan bedah buku Tanbihun Nahdliyyin yang digelar di Pondok Pesantren Bustanul Makmur Kebunrejo, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis malam, 28 Mei 2026.

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 19.30 WIB tersebut berjalan aktif dan penuh antusias dengan dihadiri para santri, alumni, serta masyarakat umum yang ingin mendalami khazanah pemikiran Nahdlatul Ulama (NU).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kitab Tanbihun Nahdliyyin sendiri merupakan karya KH Ahmad Suyuti yang telah ditaskhih oleh KH Imam Zarkasyi Djunaidi dan KH Muhammad Muyassir Mukhtar. Kitab tersebut kemudian diterjemahkan ulang dan dibukukan oleh tim santri serta alumni sebagai upaya membumikan kembali tradisi literasi Islam Aswaja sekaligus menjaga kesinambungan sanad keilmuan pesantren di tengah generasi muda Nahdliyyin.

Acara diawali dengan sambutan ketua panitia yang menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia juga berharap forum bedah buku ini dapat menjadi ruang tumbuhnya semangat intelektual dan budaya membaca di lingkungan pesantren.

Suasana forum mulai menghangat ketika Rocky selaku perwakilan tim penerjemah dan penulisan kitab menyampaikan sambutannya di hadapan peserta. Dengan penuh semangat, ia mengajak para santri agar tidak minder untuk berkarya dan menulis.

“Menjadi santri adalah pilihan sekaligus tanggung jawab. Suatu saat nanti akan lahir penulis-penulis baru yang mampu mengharumkan nama pondok,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa proses penerjemahan kitab ini melibatkan alumni pondok sebagai bentuk ikhtiar menjaga tradisi intelektual pesantren.

Menurutnya, hadirnya karya terjemahan ini diharapkan mampu mempermudah akses literasi keislaman bagi generasi muda NU tanpa kehilangan akar sanad keilmuannya.

Memasuki sesi pertama, diskusi dimoderatori oleh Faisal Akbar dengan menghadirkan Ayung Notonegoro sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, Ayung mencoba membandingkan Tanbihun Nahdliyyin dengan sejumlah kitab lain yang memiliki keterkaitan historis dengan perkembangan pemikiran NU.

Salah satu kitab yang disinggung ialah Ihya Ulumul Fudhola terbitan tahun 1937 yang menurutnya memiliki hubungan erat dengan pembacaan Muqoddimah Qonun Asasi Nahdlatul Ulama pada Muktamar ketiga NU di Surabaya tahun 1928. Selain itu, ia juga membandingkannya dengan kitab Muqoddimah Qonun Asasi Nahdlatul Ulama karya KH Abdul Hamid Kendal terbitan tahun 1957.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan