“Ini menjadi autokritik terhadap NU hari ini dan diri saya pribadi untuk tidak hanya berada di wilayah mulka saja, tetapi juga tetap menjaga semangat khidmah sebagaimana cita-cita para ulama dan pendiri NU,” ujar Ayung.
Pemaparan tersebut disambut antusias oleh peserta. Sejumlah santri tampak sibuk mencatat poin-poin penting yang disampaikan narasumber, sementara beberapa lainnya aktif mengajukan pertanyaan terkait sejarah dan perkembangan pemikiran NU.

Namun, ada pemandangan khas forum pesantren: sandal berserakan, kitab terbuka, dan kepala-kepala muda yang berusaha memahami bagaimana ulama terdahulu memikirkan masa depan umat jauh sebelum generasi sekarang sibuk berdebat di kolom komentar.
Pada sesi kedua, Muhammad Imdad, M.Fil. lebih banyak membahas latar belakang pengarang kitab Tanbihun Nahdliyyin. Ia menjelaskan pentingnya memahami sosok penulis agar pembaca tidak hanya mengenal teks, tetapi juga memahami konteks sosial, intelektual, dan perjuangan yang melatarbelakangi lahirnya kitab tersebut.
Menurutnya, tradisi penerjemahan dan pengkajian ulang karya ulama merupakan bagian penting dalam menjaga keberlangsungan warisan intelektual pesantren. Melalui proses tersebut, karya-karya ulama tidak hanya menjadi dokumen sejarah, tetapi tetap hidup dan relevan untuk dibaca lintas generasi.
Diskusi berlangsung hangat hingga pengujung acara. Interaksi antara peserta dan narasumber membuat forum bedah buku ini tidak sekadar menjadi ruang akademik, tetapi juga arena refleksi bagi generasi muda NU dalam memahami kembali hubungan antara khidmah, tradisi keilmuan, dan dinamika sosial-politik organisasi.
