Belahan Hati Muhammad

Sebagiannya, mungkin karena Muhammad sendiri tidak pernah memiliki putra yang bertahan hidup hingga usia dewasa sehingga ia perlu memastikan bahwa keturunan Fatima-lah yang akan menjaga pilar ketakwaan dan kesucian. Tetapi, lebih dari itu ia juga ingin menunjukkan contoh terbaik bagaimana memperlakukan seorang wanita dan anak perempuan.

Riwayat yang dihimpun oleh Ibnu Hisyam, misalnya, menceritakan bahwa Rasulullah selalu menghampiri putrinya terlebih dahulu setelah bepergian jauh dan kemudian mencium tangannya. Atau, Nabi selalu menyapa putrinya di pagi hari melalui cendela rumah mereka yang saling berhadapan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

As-Suyuti menjelaskan keadaan di atas sebagai kecenderungan Muhammad di satu sisi untuk menganggap Fatimah sebagai penghibur hatinya, yang mengingatkan kemulian mendiang istrinya, Khadijah. Fatimah bak pengganti Khadijah, sebagaimana masyarakat waktu itu menyebut Fatimah sebagai ummu abiha (ibu dari ayahnya).

Fatimah juga dinikahkan oleh Muhammad dengan lelaki tidak kaya, Ali —tidak seperti ketiga kakak Fatimah yang lain. Tetapi, kita tahu betul apa pertimbangan Muhammad; alih-alih mengutamakan kemapanan, Ali dipilih karena kualitas dan kredibilitas yang kuat dalam beragama.

Tinggalkan Balasan