Dalam pandangan Hamka, Islam menyuruh umatnya bekerja dengan sungguh-sungguh (ijtihad), dengan menyerahkan hasilnya kepada Allah. Karena dengan bekerja, manusia bisa memperoleh harta yang bisa digunakan untuk beramal saleh, menafkahi dirinya dan juga anak istrinya. Nabi pun selain rajin beribadah, juga tekun bekerja, menikah, dan bergaul bersama manusia lainnya.
Namun, jika manusia harus bekerja, maka hendaknya sekadar untuk memenuhi kebutuhannya saja dan jangan sampai berlebihan sehingga melupakan Allah. Jika pun dalam bekerja menjadikannya kaya raya, maka hendaklah ia hidup secara sederhana dan jangan berlomba-lomba untuk bermegah-megahan. Dan jika hasil bekerjanya sedikit, sehingga ia tetap miskin, maka ingatlah bahwa orang miskin akan ringan timbangannya nanti di akhirat.

Hidup secara sederhana meski bergelimang harta telah dicontohkan oleh Nabi dan beberapa sahabatnya. Karena harta yang mereka miliki lebih banyak digunakan untuk kepentingan agama Islam, sehingga tidak jarang mereka hanya makan sedikit dan berhenti sebelum kenyang seperti diajarkan Rasul. Karena kaya menurut mereka ini bukanlah terletak pda harta yang berlimpah, tetapi pada kekayaan hati.
Sayyidina Umar ketika ditanya mengapa jahitan tambalan bajunya pendek dan tidak panjang, memberikan jawaban mengejutkan: bahwa bagaimana dia menjahit dengan jahitan yang panjang, karena belum tentu umurnya lebih panjang dari jahitannya itu.
Tasawuf modern menurut Hamka seharusnya menjadikan manusia bersikap moderat (pertengahan). Karena hanya dengan sikap inilah manusia akan meraih bahagia yang sesungguhnya.
Sebagaimana sabda Nabi yang artinya, “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok.”
Data buku

Selamat
Terima kasih. Salam duniasantri.co!
Mantap jaya
Terima kasih. Salam literasi. Jaya selalu.