Ketika 22 November 2006

“Tak cukup hanya mengerti, tapi juga harus memahami,” pesan Pak Kiai saat mengkaji kitab Ihya Ulumuddin selepas salat Ashar.

Pesan ini yang selalu diingat oleh Qif dan membuatnya menjadi santri yang istimewa. Istimewa bukan karena menjadi santri yang cerdas atau santri yang berprestasi, tetapi santri yang bertutur dan bersikap dengan hati.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Qif adalah seorang santri yang memilih jalan perantauan di Pondok Pesantren Raudhatul Muta’allimin Kedung Cangkring, Jabon, Sidoarjo. Qif terbayang saat kali pertama memasuki wilayah Kedung Cangkring. Qif harus menaiki dokar untuk menuju lokasi pondok pesantren. Qif memilih duduk tepat di samping pak kusir, sedangkan orang tuanya duduk di belakangnya. Qif ingin merasakan sensasi menaiki dokar seakan-akan menjadi kusirnya.

Mungkin inilah yang disebut dengan “keberuntungan”. Tepat setelah kuda berjalan beberapa meter, sang kuda mengangkat ekornya. Tetiba sesuatu berwarna hijau kekuning-kuningan beraroma khas keluar dari balik ekornya dan jatuh berceceran di tengah-tengah jalan. Qif menjadi saksi hidup saat seekor kuda menunaikan hajat alaminya sebagai seekor binatang yang makan dan minum. Seketika hal tersebut membuat Qif “mabuk kuda” dan memilih pindah ke belakang.

Banyak pengalaman tak terlupakan yang dialami Qif selama mondok selain mengaji, salat berjamaah, dan lain-lain. Mulai dari mencuci baju sendiri, menjemurnya sendiri, hingga menimba air pun sendiri. Pernah suatu kali Qif harus rela memacu adrenalinnya saat hampir tenggelam di dalam sumur karena tak kuat menahan beban air saat menimba. Tentu saja hal ini terjadi disebabkan beberapa hal, antara lain karena postur tubuh Qif yang lebih memprihatinkan jika dibandingkan dengan ukuran timba sumur yang cukup gemuk sekaligus berat. Apalagi, otot-otot tangan Qif belum terbiasa melakukan pekerjaan-pekerjaan berat.

Ada satu kejadian yang tak akan dilupakan Qif seumur hidupnya, yakni peristiwa tak terduga pada hari Rabu, 22 November 2006. Ketika itu, tiba-tiba semua santri panik dan berteriak, “Wooiiiii, kiamat!!!!!!”

***
Sudah menjadi ciri khas setiap pondok pesantren memiliki kegiatan yang disebut bahtsul masail. Istilah ini diambil dari bahasa Arab yang berarti membahas beberapa masalah. Bahtsul Masail dilaksanakan dengan konsep musyawarah oleh beberapa kelompok yang dipimpin oleh moderator dan didampingi oleh mushohhih untuk memutuskan jawaban yang paling bijaksana dari kumpulan jawaban masing-masing kelompok.

Jawaban-jawaban yang terkumpul harus berlandaskan pada dalil-dalil yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalil-dalil tersebut bersumber dari satu di antara empat imam Mujtahid Mutlak, yaitu Imam Syafi’i, Imam Hambali, Imam Hanafi, dan Imam Maliki. Tentu saja yang dibahas adalah masalah-masalah kontemporer yang tidak tercantum secara jelas di dalam Al-Quran dan Hadis, sehingga harus meruju pada kitab-kitab karya ulama salaf yang merupakan penjelasan secara mendalam isi Al-Quran dan Hadis. Misalnya, saja masalah tentang penggunaan obat penunda haid pada jamaah haji perempuan agar tidak mengganggu rangkaian ibadah haji dan umroh. Dalil tentang penggunaan obat tersebut tidak akan ditemui secara jelas di dalam Al-Quran dan Hadis.

Di Pondok Pesantren Raudhatul Muta’allimin, kegiatan bahtsul masail dilaksanakan setiap hari Rabu selepas Isya. Dengan adanya kegiatan ini, para santri diharuskan mencari dasar atau dalil dalam kitab-kitab fikih guna menjawab permasalahan yang akan dibahas pada hari Rabu. Sama halnya dengan santri-santri yang lain, Qif juga dipusingkan oleh soal yang akan dibahas malam nanti. Hingga pagi ini, Qif belum menemukan dalil yang pas untuk menjawabnya, sedangkan waktu sudah semakin sempit. Dari kejauhan teman sekelompoknya yang bernama Alif berlarian memanggil-manggil namanya.

“Qif, bagaimana tentang jawaban untuk soal malam nanti?” tanya Alif.

“Coba kau tanyakan pada langit Al, siapa tahu ia mengetahui jawabannya,” kekeh Qif.

“Ah, kau selalu saja tak pernah serius,” balas Alif.

“Aku belum menemukan jawaban yang pas Al. Aku mulai lelah. Aku butuh piknik. He-he-he,” kekeh Qif lagi.

“He-he-he. Eh Qif, ngomong-ngomong permasalahan yang dibahas itu tentang apa?” tanya Alif tanpa dosa.

“Hei, teruntuk kau yang berwajah tanpa dosa tetapi harus dioles tahi kuda. Kamu, kan, kelompokku, seharusnya kamu membantuku mencari jawabannya. Bukan malah soalnya saja tidak tahu,” jawab Qif dengan tegas.

Tinggalkan Balasan