Belajar dari Kematian Santri Gontor

AM telah menemui Robbnya. Dan ia tidak akan kembali ke dunia apapun yang kita dilakukan. Setidaknya semua pihak legowo dan menerima ini semua sebagai sebuah takdir. Persoalan hukum tetap menjadi tanggung jawab kepolisian. Tentu saja mediasi antar keluarga menjadi jalan tengah yang akan menjadikan persoalan menemukan muaranya.

Sebuah Pelajaran

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pelajaran yang dapat diambil dari kejadian ini adalah bahwa pimpinan pondok tidak seharusnya menyerahkan penuh kepada senior. Karena sikap senioritas terkadang menyebabkan persoalan yang tidak diketahui oleh pimpinan. Seorang pengasuh pondok tetap wajib memantau setiap kegiatan yang diadakan di lingkungan pondok. Sehingga hal-hal yang tidak kita inginkan tidak terjadi. Penganiayaan terhadap yunior kebanyakan disebabkan oleh senioritas yang tidak beradab.

Demikian juga dengan jajaran pengasuh pondok tidak boleh menutup-nutupi kejadian yang sebenarnya. Karena transparansi persoalan akan lebih lugas untuk dicarikan solusi, sehingga tidak ada pihak yang dirugikan. Menyembunyikan kenyataan sama halnya dengan membangun sikap dusta. Sedangkan kedustaan itu sendiri merupakan tindakan yang diharamkan menurut konsep dan kaidah Islam.

Hal lain yang perlu diperhatikan juga sebagai pelajar bagi kita adalah lebih berhati-hati dalam melaksanakan suatu kegiatan. Kehati-hatian yang dimaksud adalah tidak sepenuhnya membiarkan santri melakukan kegiatan tanpa adanya pendamping yang memiliki karisma dan komitmen untuk kebaikan pondok. Karena jika terjadi pembiaran dalam arti tanpa adanya pendampingan yang seharusnya, maka akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Termasuk bulliying, perundungan, dan tindakan makar di luar nalar sebagaimana terjadi terhadap santri di Pesantren Gontor Ponorogo.

Saling Memaafkan

Tinggalkan Balasan