Belajar dari Kematian Santri Gontor

Tindakan refresif yang dilakukan santri senior terhadap yunior sebagaimana terjadi di Pesantren Gontor jangan sampai terulang lagi. Cukuplah kejadian ini menjadi pelajaran karena pada hakikatnya tidak diinginkan terjadinya petaka yang sampai menewaskan seorang santri. Sebagaimana diungkapkan oleh perwakilan Pesantren Gontor, Noor Syahid, pada saat klarifikasi kejadian yang sebenarnya. Pihak pesantren menyayangkan terjadinya petaka hingga menewaskan AM.

“Kalau dengan keluarga kita baik -baik terus bagaimana pun pihak pelaku dan korban adalah santri Gontor juga, Gontor semaksimal mungkin (membantu) untuk saling memaafkan,” jelas Noor Syahid. Kemudian melanjutkan, “Kami sangat menyesalkan terjadinya peristiwa yang berujung pada wafatnya almarhum. Dan sebagai pondok pesantren yang concern terhadap pendidikan karakter anak, tentu kita semua berharap agar peristiwa seperti ini tidak terjadi lagi di kemudian hari,” demikian ungkap Noor.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mediasi terhadap kedua keluarga seharusnya dicarikan jalan keluar yang saling merelakan. Bukan kemudian lepas dari persoalan hukum, namun yang terpenting bahwa penyelesaian ini harus dilakukan dengan sepenuh hati. Jangan sampai masih menyisakan dendam dan saling memendam perasaan yang bernilai negatif. Karena saling memaafkan merupakan bagian prinsip kemanusiaan yang diabsahkan oleh Hadis Rasulullah saw.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، عن رَسُولَ اللَّهِ صلّى الله عليه وسلّم قَالَ : مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زادَ اللهُ عَبْداً بعَفْوٍ إِلاَّ عِزّاً، وَمَا تَوَاضَعَ أحَدٌ للهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ. رواه مسلم وغيره

Artinya: Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya,) kecuali kemuliaan (di dunia dan akhirat), serta tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Dia akan meninggikan (derajat)nya (di dunia dan akhirat).” (HR. Muslim)

Hadis di atas menjelaskan bahwa memaafkan kesalahan orang lain akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah swt. Maaf dan memaafkan adalah dua hal yang saling berimplikasi terhadap hubungan sosial kemanusiaan. Dalam Hadis yang lain, disabdakan oleh Rasulullah saw:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : (( أفضل الإيمان الصبر و السماحة )) (صحيح) (فر،تخ،حم)

Artinya: “Rasulullah ﷺ bersabda, “Iman yang paling utama adalah sabar dan pemaaf atau lapang dada.” (HR. Bukhari dan Ad-Dailami)

Demikian juga masih terkait dengan maaf memaafkan, diriwayatkan oleh At-Tabrani, Rasulullah saw bersabda,

اسمحوا يسمح لكم

Artinya: “Maafkanlah, niscaya kamu akan dimaafkan (oleh Allah).” (HR. At-Thabrani)

Demikianlah sedikit ulasan terkait dengan kasus yang sedang menimpa saudara kita, santri di Pesantren Gontor. Semoga para santri yang ada di pesantren modern ini, termasuk juga jajaran pengasuh dan pengurus pesantren diberi ketabahan, kesabaran, untuk mendapatkan jalan keluar dari persoalan yang sangat pelik ini.

Tinggalkan Balasan