Berdakwah Tanpa Menghina

Ayat tersebut menjelaskan bentuk metode dakwah yang menghindari seorang pendakwah menghina agama lain, yaitu dengan cara pertama, bijaksana (bil hikmah). Hikmah adalah sebuah kemampuan pendakwah dalam menyampaikan doktrin-doktrin Islam serta realitas yang ada dengan argumentasi logis dan bahasa yang komunikatif. Dalam hadis disebutkan, penyampaian dakwah yang sesuai dengan kemampuan akal manusia dalam menerima penyampaian.

Kedua, nasihat yang baik (al-mau’idzat al-hasanah), yaitu dengan memberikan nasihat, bimbingan, pendidikan, peringatan dengan kalimat-kalimat yang lemah lembut.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ketiga, berdiskusi dengan baik (al-mujadalahh bi-al lati hiya ahsan), yaitu dengan cara bertukar pendapat yang dilakukan oleh dua pihak yang tidak bertujuan untuk menciptakan permusuhan melainkan menemukan bukti yang kuat sehingga saling menerima pendapat.

Karakteristik seorang pendakwah juga perlu diperhatikan. Dalam buku Tadzkiratud Du’atil Islam, Abu ‘Ala Al-Maududi mengatakan bahwa seorang pendakwah harus mampu menjadi hasanah dengan budi dan akhlaknya bagi masyarakat yang menjadi mad’unya. Dr Hamzah Ya’kub juga mengatakan dalam tafsir dakwah Marsekan Fatawi, seorang pendakwah haruslan penyantun dan lapang dada, karena apabila dia keras dan sempit dalam pandangannya, maka larilah manusia meninggalkan dia.

Allah Berfirman dalam surah Ali Imron ayat 159 yang artinya: Andaikan engkau kasar dan keras hati, niscaya lari bercerai berailah mereka dari sekelilingmu. Dalam tafsir dakwah tersebut juga beliau menambahkan, seorang pendakwah tidak bersikap emosional, sebab dia hanya bertugas menyampaikan kebenaran, sedangkan petunjuk dan kesesatan adalah di tangan Allah SWT. Seorang pendakwah juga harus bertindak sebagai pemersatu ummat, bukan menjadi pemecah belah umat.

Tinggalkan Balasan