Saat itu Rasulullah mendapati seorang anak kecil berusia belasan tahun yang tidak lain adalah Salman. Mengetahui hal itu, Rasulullah berdoa memohon kepada Allah agar Salman dijadikan orang alim dan ahli fikih. Singkat cerita, setelah Salman dewasa dia benar-benar menjadi orang alim dan seorang fuqaha atau ahli fikih.
Kisah inilah yang menjadi dasar bagi para santri untuk tabaruk pada kiai. Mungkin kisah Salman ini sudah populer di kalangan santri.

Saya sendiri waktu nyatri di Pesantren Abdul Aziz Wonokromo, Bantul, juga sering melakukan tabarukan kepada kiai sebagaiman para santri di pesantren lain. Saya selalu membalikan sandal kiai sehabis ngaji, cium tangan bolak-balik, minum air sisa kiai.
Dan apa yang saya lakukan ini benar-benar saya rasakan hasilnya kini; bahwa keberkahan itu memang benar-benar ada. Salah satu hal yang saya rasakan, yaitu saya sekarang lebih mudah menangkap ilmu atau penjelasan guru dari pada sebelumnya. Ketika saya belum mondok, untuk memahami mata pelajaran benar-benar susah bahkan saya sendiri hampir frustrasi karenanya.
