Bila Para Kiai Terlibat Diskusi Online…

Di saat yang sama, KH Fahrur Rozy memberi penegasan lebih. Menurutnya, belajar secara online yang juga diberlakukan di lingkungan pesantren selama ini sangat tidak efektif. Ia mencontohkan tentang dirinya yang menggelar pengajian secara virtual. “Awalnya yang ikut 700 orang, tapi sekarang tinggal 100 orang,” kata Gus Fachrur – panggilan akrabnya. Karena itu ia sepakat bahwa para santri harus belajar di pondok pesantren kembali.

Pendeknya, semua kiai yang terlibat diskusi online tersebut sepakat bahwa kegiatan di lingkungan pondok pesantren harus dinormalkan kembali. Namun, para kiai juga menyadari akan banyaknya kendala. Nyai Hj Mahfudzoh Ali Ubaid, misalnya, memberi contoh soal lazimnya satu kamar di pondok yang dihuni 10-30 santri. “Dengan kondisi ini, problemnya, bagaimana menjaga para santri, ustadz, dan kiai agar terjaga dan tidak terpapar covid-19,” ujarnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dalam pada itu, H Ahmad Rifai yang bertugas Rumah Sakit Tulungagung menyarankan agar rapid test terhadap santri diperketat. Memang, ia mengakui bahwa validitas rapid test hanya 60 sampai 70 persen. Tapi, kata dia, yang paling penting orang yang rentan terpapar dan punya penyakit bawaan harus benar-benar diperhatikan dan langsung diisolasi.

Untuk itu, menurut dia, tiap santri yang tiba di pesantren harus di-rapid test, bukan membawa surat tes kesehatan dari rumah. “Karena di perjalanan juga rawan tertular,” katanya. Ia juga mengingatkan bahwa kini banyak pasien OTG (orang tanpa gejala). Karena itu, ia minta para kiai memperhatikan kesehatan dan kebersihan para santri. “Yang paling penting menghindari kontak langsung,” kata pengurus ISNU itu.

Tapi, uniknya, seperti terungkap dalama diskusi online ini, problem di pesantren menghadapi “New Normal” ternyata tak hanya minimnya sarana kesehatan dan kedisiplinan protokol kesehatan. Tapi juga adanya persepsi para pengasuh pesantren yang masih berbeda satu sama lain. “Saya banyak melakukan silaturahim ke kiai-kiai di Mojokerto. Ternyata, ada beberapa kiai yang tak percaya ada Covid-19,” kata Gus H Achmad Barra. Karena itu, ia berharap para kiai bisa menyamakan persepsi dalam menghadapi Covid-19 dan “New Normal” ini.

Tinggalkan Balasan