Bila Para Kiai Terlibat Diskusi Online…

Selain itu, ikut pula KH Muchlish Muchsin (PP Al Anwar Bangkalan); Nyai Hj Mahfudhoh Ali Ubaid (PP Tambak Beras Jombang); KH Mutham Muchtar (PP An Nuqaiyyah Sumenep); KH Yazid Karimullah (PP Nurul Qarnain, Jember); Prof Dr M Mas’ud Said (Direktur Pascasarjana Unisma Malang); Prof Dr Fathoni (IAIN Tulungagung); M Mas’ud Adnan (Komisaris Utama Harian Bangsa dan bangsaonline.com); KH A Wahid Badrus (Pengurus NU Nganjuk); KH Husnul Chuluq (mantan Ketua PCNU Gresik); KH Ramadhon Sukardi (PP dan Yayasan Sosial Al Huda Kediri); H A Rifai (ISNU/ Rumah Sakit Tulungagung); KH Muflich Rifai (PP Ar Rifai 2); dan Gus H Achmad Barra (PP Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto).

Tak beda jauh ketika berkumpul secara fisik, diskusi para kiai yang dipisahkan jarak relatif jauh ini tetap berlangsung gayeng, cair, penuh candaan. Tapi, tetap banyak ide segar dan kreatif yang muncul menyikapi rencana pemerintah memberlakukan “New Normal”.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Masyaallah. Di forum itu rasanya hati merasa sangat bahagia karena juga pembahasannya sangat detail, mantab, dan produktif,” demikian kesan Prof Mas’ud Said yang memandu jalannya diskusi online.

Dalam diskusi tersebut, misalnya, Prof Halim Soebahar yang juga Direktur Program Pascasarjana IAIN Jember, menegaskan, pondok pesantren adalah lembaga pendidikan yang memiliki tipikal khusus, terutama dalam membentuk karakter para santri. Bahkan pesantren, katanya, adalah lembaga pendidikan yang mampu memadukan otak dan watak. Karena itu, ia merekomendasikan agar dicari cara agar pesantren segera aktif kembali.

Gus Kikin, yang belum lama dipercaya menjadi Pengasuh Pondok Tebuireng, juga menilai bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan akhlak. Gus Kikin menilai, kevakuman pesantren hingga dua bulan akan merugikan secara moral. Karena itu, ia juga berharap proses ajar mengajar do pesantren harus segera aktif kembali.

Tinggalkan Balasan