Hingga suatu kejadian menghebohkan dan mengocok perut pun terjadi. Tepatnya malam Jumat, pukul 01.00 WIB. Seperti biasa santri beristirahat di dalam kamar masing-masing. Seolah terbiasa dalam keadaan lampu padam, kami mematikan lilin-lilin untuk berhemat. Pada saat yang sama, sanggar “Al-Zalzalah” sebuah teater kesenian pondok setiap malam Jumat mengadakan tadabbur alam, yakni berjalan dengan mata tertutup kain sambil berzikir dan berjalan mengitari pondok. Dan setelah mencapai jumlah zikir yang telah ditentukan, kami para anggota teater akan membuka tutup mata kami sendiri.
Di pojokan musala, beberapa santri yang melanggar, nekat mendengarkan radio, setelah tadi siang me-request lagu-lagu lewat telepon dari wartel kepada pihak stasiun radio, dan mengirim-ngirim salam dengan teman-temannya. Ck ck ck!

Pemandangan yang berbeda, saat para pengurus pondok sudah tertidur lelap, bahkan mungkin pengasuh pondok sudah bangun untuk salat malam, beberapa santri “nakal” pun berkerumun membaca novel-novel percintaan sambil cekikikan. Dan ada salah satu santri yang tidak kuat menahan tawa hingga tanpa sadar bahwa ia dalam bahaya pelanggaran, melepas tawanya yang membahana hingga membangunkan 600-an santri waktu itu. Bayangkan, jam satu malam! Saat bunyi sandal terasa seperti bunyi roda sepeda, atau bunyi air di kamar mandi seperti ombak di lautan, atau bunyi jangkrik yang terasa sangat nyaring mengusik telinga.
Suara tawa si santri tersebut bahkan mengagetkan si pendengar radio dan pemain kartu remi dan domino, hingga mereka pun menjerit histeris membayangkan hantu kuntilanak yang tertawa menghampiri mereka. Hal itu juga mengganggu konsentrasi para anggota teater Al-Zalzalah, yang kemudian juga berteriak-teriak minta tolong membayangkan tangan-tangan penuh darah meraba-raba wajah mereka. Dan hal itu pun mengentakkan ratusan santri putri lainnya yang mimpinya terusik, membayangkan gadis-gadis berambut panjang dengan wajah penuh luka-luka seperti di film-film horor sedang menarik-narik selimut mereka.
Penulis pun tak kalah histeris, hingga berlarian dari dalam kamar keluar, dan dari luar berlarian lagi ke dalam kamar, entah mau pergi kemana, hingga betis ini lebam karena terantuk tiang pintu.
Saat pengurus pondok beraksi, menyatroni kami, dengan menenteng lampu-lampu senter berseliweran mengarah ke wajah kami, lilin-lilin pun mulai dinyalakan. Dan lihatlah, beberapa kepala santri ada yang masuk tong sampah, ada yang masuk ke dalam lubang panci dan wajan, ada yang tergeletak di comberan. Dan saat melihat di cermin, wajah mereka serupa badut yang lucu dan menggemaskan. Kami pun tertawa terbahak-bahak, tak peduli dengan luka-luka di tubuh.

Saya tidak mendapatkan narasi “Jeruk makan jeruk” di artikel ini. Karena memang, ya begitulah! Mantab dan top markotop pokoknya. Narasinya membuat saya melayang ke masa silam, saat pondok lagi padam alias pettengan. The best memory that I can’t forget forever! Aiss,,,