Bila Pondok Putri Mati Lampu …

Namun sial, di luar sana, di areal pondok dekat kediaman sang kiai, pengasuh kami itu pun ternyata dhukah (sangat marah), padahal beliau jarang sekali memarahi kami. Saking marahnya beliau sampai memasuki kamar-kamar kami dan mengibas-ngibaskan tasbihnya ke arah kami. “Aduh, sungguh sakit!” rintih salah satu teman penulis yang pinggangnya terkena kibasan tasbih sang kiai. Entahlah, apakah dia saat ini sudah menjadi orang yang sukses karena barokah kibasan tasbih kiai. Atau menjadi ibu nyai yang sibuk mengurus santri-santri nakalnya.

Dan yang tak kalah menghebohkan yaitu, beberapa pengurus keamanan dan pengurus-pengurus santri putra pun masuk ke areal  putri demi mengamankan kami, di ikuti ratusan santri putra junior yang mungkin pura-pura kaget dan ikut masuk ke areal pondok putri. Di sisi lain, ratusan santri dari daerah-daerah lain di bawah yayasan pesantren tempat kami mondok juga tak ketinggalan menyatroni kami, betanya-tanya apakah gerangan yang terjadi. Konon katanya, menurut santri dhalem (khadim) pengasuh, kiai dan ibu nyai kami cukup di buat malu kepada para pengasuh di daerah lain karena kelakuan nakal kami tersebut. Astaghfirullah!

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Setelah beberapa jam dalam pengamanan, keadaan pun mulai reda. Dan seperti biasa, para pengurus pun mulai mencari-cari sumber masalah. Dan santri nakal yang tawanya lepas tadi karena membaca novel bersama teman-temannya dibuat kelimpungan karena pengurus menjadikannya buronan saat ia bersembunyi dari satu tempat ke tempat lain. Dan akhirnya, ditemukanlah novel yang tergeletak karena tanpa sengaja terlempar saat mereka berlarian. Dan akhirnya dipanggillah beberapa santri yang melanggar tersebut lalu diadili bak para pesakitan yang siap menerima hukuman.

Beberapa pengurus pun dibuat terbelalak melihat radio yang masih menyala tergeletak di tangga musala. Dan menemukan beberapa kartu remi dan domino di antara buku-buku pelajaran di emperan pondok. “Oh no!” ucap santri-santri tersebut saat ketahuan melanggar.

Keesokan harinya, saat berangkat ke sekolah, bahaya pun mengintai kami karena cemoohan dan bullying dari santri putra yang siap mengadang, seolah menelan kami mentah-mentah. “Emang softexnya hilang neng, kok tadi malam teriak-teriak?!” “Paling kelingkingnya digigit tikus itu, wkwkwk,”  ucap mereka pedas, membuat telinga kami memanas. “Santri putri bikin kaget seisi bumi, dosa neng!” sahut yang lain. “Makanya malam-malam tidur, jangan baca novel!” kata-kata tidak sopan menghujani kami yang semakin cepat melangkah tergesa-gesa menghindari mereka.

Belajar dari black out oleh pihak PLN di atas, bukan berarti segala yang rahasia dan tersembunyi tidak akan ketahuan. Lambat laut akan terbongkar. Kami akhirnya diberi petuah yang bernas dari Bu Nyai.

One Reply to “Bila Pondok Putri Mati Lampu …”

Tinggalkan Balasan