Memasuki bulan Syakban, atmosfer di berbagai pondok pesantren mulai berubah. Ada geliat kepulangan yang masif; mulai dari Pesantren Lirboyo yang memulangkan santrinya sejak tanggal 10 Syakban, hingga pesantren-pesantren lain yang menyusul di tanggal 20 atau 23 dan seterusnya.
Momentum ini sering kali memicu pertanyaan mendasar bagi para santri maupun wali santri: lantas, apa yang sebenarnya harus dilakukan saat liburan tiba? Apakah liburan berarti memutus mata rantai keilmuan, atau justru bagian dari proses itu sendiri?

Saya teringat sebuah nasihat yang cukup out of the box dari guru saya, yang belakangan juga sering melintas di linimasa media sosial sebagai pengingat bagi para pencari ilmu:
مَنْ لَمْ يُعَطِّلْ وَقْتَ التَّعْطِيلِ لَمْ يحصل وَقْتَ التَّحْصِيلِ.
“Seseorang -dalam hal ini, santri juga masuk- yang tidak meluangkan waktunya untuk berlibur, maka ia tidak akan mendapat waktu belajar dengan efektif/baik.”
Nasihat ini seolah menggugat paradigma kolot yang menganggap bahwa liburan adalah sebuah “dosa” akademik atau bentuk kemalasan. Secara kognitif, otak manusia bukanlah mesin yang bisa dipaksa bekerja tanpa henti. Jika kita menelisik lebih dalam, liburan sebenarnya bukanlah sebuah jeda kosong, melainkan bagian integral dari perjalanan mencari ilmu itu sendiri. Tanpa adanya jeda, proses penyerapan ilmu (tahshil) justru akan mengalami kejenuhan yang berujung pada stagnasi mental.
Saya memandang bahwa tubuh dan pikiran perlu diberi ruang bernapas agar belajar kembali menjadi efektif. Dalam tradisi pesantren, kita mengenal disiplin yang ketat, namun kearifan sejati justru muncul saat kita mampu mengelola ego untuk mengakui bahwa diri kita butuh istirahat. Menggunakan waktu libur untuk sekadar menekuni hobi atau berkumpul dengan keluarga bukan berarti kita meninggalkan kitab, melainkan sedang “mengasah parang” agar saat kembali ke pesantren nanti, daya serap kita menjadi lebih tajam.
Namun, di sinilah letak ujiannya. Orang Madura memiliki istilah yang sangat pas menggambarkan fenomena ini: “Bur-liburan benne bur-leburan” (Berlibur bukan berarti bebas berbuat sesuka hati atau hanyut dalam kesenangan yang melalaikan). Liburan adalah jeda yang bertanggung jawab.
Sering kali, tantangan terbesar santri saat pulang adalah godaan layar gawai pintar. Bermain HP tentu diperbolehkan sebagai sarana hiburan, namun jangan sampai ia mengikis esensi dari “istirahat” itu sendiri. Jangan sampai ketika tiba waktunya kembali ke bilik pesantren, yang tersisa hanyalah keluhan, “Yaelah, belum puas main HP,” atau rasa malas yang justru berlipat ganda. Ilmu membutuhkan ketenangan dan kesiapan jiwa, bukan keterpaksaan yang lahir dari rasa jenuh yang belum tuntas.
Normalisasi terhadap pentingnya kesehatan mental dan jeda bagi santri perlu terus dipupuk. Jika kita mampu merayakan liburan dengan penuh kesadaran—bahwa ini adalah cara kita menghargai hak tubuh—maka saat kembali ke pondok nanti, semangat yang dibawa adalah semangat baru, bukan sisa-sisa kelelahan dari semester sebelumnya.
Pada akhirnya, kearifan dalam menuntut ilmu adalah bagaimana kita mampu memosisikan diri secara adil saat berada di luar tembok pesantren.
Saya ulangi lagi “Bur-liburan benne bur-leburan”
Selamat berlibur bagi para pejuang literasi. Gunakan jedamu untuk menjemput kearifan yang lebih besar.
