Bila Santri Lomba Cas-cis-cus…

Setiap akhir sanah (akhir tahun), di Pondok Pesantren Annuqayah—pada era saya— selalu diadakan kegiatan berbagai macam lomba. Ada banyak hal yang diperlombakan, seperti karnaval, cipta puisi, menulis cerpen, majalah dinding, tenis meja, bulu tangkis, dan lain sebagainya.

Salah satu lomba yang saya ikuti bersama Syafi’i (lagi-lagi Syafi’i, seperti yang saya tulis di lain artikel bahwa Syafi’i adalah teman karib, akrab, dan dekat) adalah kontes atau lomba percakapan Bahasa Inggris.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Meskipun kami (saya dan Syafi’i) tidak ama-amat pintar dalam berbahasa Inggris, namun saya terdaftar sebagai siswa (pilihan) di kelas khusus Bahasa Inggris yang tutornya langsung datang dari Amerika Serikat, yaitu Rob Beadecker. Sementara Syafi’i tercatat sebagai guru Bahasa Inggris (setelah duduk di bangku kuliah) di MTs I Annuqayah. Jadi dengan dasar itu dapat disimpulkan bahwa kami mumpuni (sedikit) dalam hal ke-Inggris-an. Ini bukan sebuah kesombongan, tetapi sebuah pilihan untuk tahadduts binni’am; (membincangkan nikmat Tuhan).

“Ikut lomba Bahasa Inggris, yuk,” ajak Syafi’i pada saat itu di antara sekian banyak santri yang berlalu lalang di halaman madrasah.

“Hah?! Ikut lomba Bahasa Inggris?” saya terkejut karena sama sekali tak ada persiapan.

Tinggalkan Balasan