Bila Santri Lomba Cas-cis-cus…

“Ayuk la…, yang penting tampil,” desak Syafi’i meyakinkan dan di-iyakan oleh saya.

Jadilah kami dengan persiapan minimalis mengikuti lomba percakapan Bahasa Inggris. Entah apa yang akan kami ungkapkan pada saat tampil. Pastinya, sebagaimana Syafi’i bilang, berbekal “PD” dan yang penting tampil. Yang terpikir saat itu adalah, hanya terkait dengan “what’s your name, how are you, where do you come from, what’s are you doing,” dan seterusnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Waktu acara lomba pun tiba. Saya deg-degan, saya yakin Syafi’i juga demikian. Tapi kami tidak saling memberi tahu. Sendiri dalam kegalauan, dan sepi dalam gemeteran. Sesaat sebelum naik panggung, saya baca bismillah dan teman-temannya. Saya lirik Syafi’i, ia begitu tenang. Membuat hati saya juga serasa damai. Meskipun “PD” saja tidak cukup, tetapi pada saat itu kami benar-benar berbekal kepercayaan diri.

Saya naik panggung lebih dulu. Mengenalkan diri, introduction, mengungkapkan nama, asal, dan lain sebagainya. Semua berjalan lancar. Tidak ada hambatan sama sekali. Kemudian, Syafi’i naik panggung. Kami pun ber-cas-cis-cus dengan semangat dan antusias. Tepuk tangan dari hadirin membahana. Kami merasa di atas angin, mendapat applous dari para yang hadir. Terakhir, saya menyanyi. Entah lagu apa yang saya nyanyikan. Tentu masih dalam Bahasa Inggris, karena kontes ini adalah kontes percakapan Bahasa Inggris.

Bagitulah kisah saya dan Syafi’i saat masih mondok dulu. Banyak kenangan yang dapat kami ungkap. Sebagai bagian dari catatan sejarah. Ada yang niscaya untuk dijadikan contoh, ada juga sebagai pelajaran untuk tidak diikuti. Semua ada hikmah, jika kita berupaya untuk mengambil hikmah. Saya berharap setiap kisah memberikan pencerahan untuk dijadikan cerminan dalam kehidupan.

Tinggalkan Balasan