Memberani-beranikan diri, saya sungkem untuk minta restu. Jawaban ibu seperti yang sudah diduga.
“Aku tak suka anakku jadi wartawan. Pekerjaan apa itu wartawan,” kata ibu saya sambil nyusur tembakau. Saya hanya bisa menunduk.

“Tapi kalau itu memang sudah jadi tekadmu, kewajiban seorang ibu itu hanya mendoakan. Selebihnya urusanmu sendiri,” ibu menyambung ucapannya.
Antara mau menangis atau tersenyum, saya mencium tangannya, lalu berlalu.
Selesai? Belum. Setelah ibu, seorang santri juga harus minta doa kepada kiainya. Maka, saya sowan kiai yang menjadi guru ngaji saya dulu, dulu sekali.
“Pak Kiai, mohon doa, saya mau ikut tes menjadi wartawan,” begitu saya minta didoakan.
Pak Kiai geleng-geleng kepala sambil tersenyum. “Mau jadi wartawan?” tanya Pak Kiai. “Kamu tahu apa syarat menjadi wartawan?”

Masih gagal paham dengan kalimat “Saya tidak mondok tapi dimasukkan ke pondok.” Apa maksudnya mondok bukan kemauan sendiri?
Jawabannya mungkin ada di sini Gus: https://www.duniasantri.co/kadang-kadang-dipaksa-itu-perlu/?singlepage=1