Bila Santri (Mau) Jadi Wartawan

Pertanyaan Pak Kiai begitu menohok, dan saya cuma berani menatap lantai.

“Syarat menjadi wartawan itu cuma satu, tak tahu aturan. Tak tahu sopan-santun. Lihat waktu Muktamar NU di Situbonda, para kiai duduk rapi di bawah, para wartawan malah petakilan gak karu-karuan. Ada yang naik-naik ke meja untuk memotret, memfoto.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kata-kata Pak Kiai serasa menampar kuping, dan saya cuma berani menatap lantai.

“Tapi kalau itu memang maumu, ya sudah, sebagai kiaimu aku hanya bisa mendoakan.”

Saya segera mengambil tangannya, mencium telapak tangannya tiga kali, lalu berlalu.

Dan benar, saya akhirnya memang menjadi wartawan. Dengan profesi itu, saya menjelajah ke banyak tempat, ke berbagai bidang ilmu dan keahlian, ke berbagai komunitas masyarakat, tapi tidak ke dunia santri. Bertahun-tahun menjalani profesi wartawan, entah kenapa saya nyaris tak pernah mengunjungi pesantren, nyaris tak pernah berelasi dengan orang-orang pesantren, dengan dunia santri.

Tahu-tahu, entah didorong oleh apa, setahun lalu ada yang menarik-narik tangan saya untuk berkumpul di jejaring duniasantri. Tiba-tiba ada duniasantri.co. Sepertinya saya sedang “dihukum” untuk menjadi khodam. Bukan khodamnya kiai, tapi khodamnya para santri yang meminati dunia tulis-menulis. Mungkin karena “kuwalat”.

2 Replies to “Bila Santri (Mau) Jadi Wartawan”

Tinggalkan Balasan