Fasilitator membagi peserta ke dalam sepuluh kelompok kecil agar interaksi berjalan optimal. Fasilitator GUSDURian Makassar, Indri, menyebut permainan ini dirancang untuk merombak stigma negatif, agar limbah dipandang sebagai material yang bisa diolah menjadi kompos.
Selain isu sampah, fasilitator juga menyisipkan refleksi krisis sumber daya air. Danu, fasilitator lainnya, mengingatkan peserta untuk bersyukur atas kemudahan akses air bersih di Jombang, yang kontras dengan realitas di beberapa desa dampingan mereka di Sulawesi.

Fasilitator lain, Indri pun mengapreasi atas semangat dan keterlibatan aktif peserta dalam mengikuti fun games. Ia pun mendorong para peserta untuk menjadi lebih peka terhadap penggunaan air.
“Adik-adik harus mulai gerakan kecil, seperti segera memelankan kran yang menyala keras sebagai bentuk penghematan,” tambah Indri.
Pendekatan pengenalan karakter diusung oleh GUSDURian Mojokerto yang menguji coba prototipe Kartu 9 Nilai Utama Gus Dur.
Sesi ini dikemas secara kompetitif menggunakan instrumen proyektor dan kartu. Peserta dari tingkat SMP/MTs dibagi ke dalam tiga kelompok untuk beradu cepat menjawab studi kasus riil, seperti etika komunikasi saat sekelompok murid membuat akun media sosial palsu, hingga penolakan musyawarah desa oleh pemuda karang taruna.
Sistem poin diterapkan secara tegas: jawaban benar pertama mendapat tambahan 10 poin, benar kedua 20 poin, sedangkan jawaban salah dikurangi 5 hingga 10 poin.
Penggerak GUSDURian Mojokerto, Arini, menyatakan bahwa permainan ini merupakan tahap uji interaksi sebelum diintegrasikan ke kurikulum rutin Rumah Belajar binaan mereka.
