Syekh Yasin merupakan seorang ulama ahli hadis, bahkan beliau dijuluki sebagai “Musnid Ad Dunya”, yaitu pemegang sanad hadis terbanyak di dunia. Beliau sangat disegani dan dihormati baik di Makkah maupun di Indonesia.
Kehidpanya di Makkah cukup sederhana. Beliau tidak hidup mewah dengan gelimang kekayaan, Bahkan baju yang sering dikenakannya cukup sederhana, tidak memperlihatkan bahwa beliau seorang ulama besar. Namun, berkat kealiman dan kezuhudan Syekh Yasin, tidak ada seorang pun yang berani mencela penampilannya. Banyak murid-murid dari Indonesia belajar dengan Syekh Yasin di Makkah, salah satunya adalah Al-Magfurllah KH.Muhammad Ahmad Sahal Mahfud atau yang dikenal dengan nama Mbah Sahal.
Selain mendalami ilmu hadis, Syekh Yasin juga mendalami imu tasawuf, falak, fikih, dan ushul fikih. Semangatnya dalam menuntut ilmu membawanya berguru pada ulama-ulama besar Timur Tengah, setelah sebelunya belajar ilmu dasar-dasar agama kepada ayahnya sendiri, Syekh Isa dan menghafal al-Quran dengan ibunya. Beliau mampu menghafalnya pada saat usia 8 tahun. Setiap bulan Ramadan tiba, Syekh Yasin selalu mengkhatamkan kitab Kutub al-Sittah, yaitu 6 kitab induk hadis. Di samping itu, beliau juga mengajar di Masjidil Haram. Beliau memiliki majlis yang cukup digemari oleh penduduk Makkah.
Syekh Yasin tak pernah malu menuntut ilmu meskipun beliau sudah menjadi ulama besar dan memangku majlis di Masjidil Haram. Semangat dan kehausannya akan ilmu ini tak pernah padam dari dirinya. Bahkan sampai mampu mengalahkan egonya. Syekh Yasin juga tidak anti terhadap kritik.

Pernah suatu ketika kitab karangan Syekh Yasin mendapatkan kritikan pedas dari seorang santri asal Indonesia, yaitu KH.Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh. Mengetahui kritikan tersebut, Syekh Yasin tidak marah, justru merasa senang dan akhirnya mengirim surat ke Indonesia yang ditunjukan untuk Mbah Sahal. Dalam suratnya, Syekh Yasin mengundang Mbah Sahal untuk datang ke Makkah dan diminta tinggal di rumahnya. Pada musim haji tahun berikutnya, Mbah Sahalpun berangakat haji dan berencana menetap di rumah Syekh Yasin. Saat sampai di Pelabuhan Makkah, Mbah Sahal disambut oleh seorang leleki paro baya yang tidak lain adalah Syekh Yasin sendiri.
Syekh Yasin merupakan ulama yang gemar menuntut ilmu dan tak mengenal usia. Bahkan Syekh Yasin menulis banyak karya baik dalam bidang ilmu fikih, ushul fikih, hadis, falak, dan lain sebagainya. Jika dilihat dari karya-karyanya, rupanya beliau lebih banyak menulis kitab-kita yang berkaitan dengan ilmu hadis.
Beliau berkelana menuntut ilmu dari guru ke guru atau dari majlis ke majlis. Saking sibuknya menuntut ilmu hampir melupakan soal nikah. Padahal, usia beliau sudah tak muda lagi. Lalu hal ini membuat orang tua Syekh Yasin dan juga teman-temanya merasa khawatir dan menjadi beban pikiran bagi mereka. Sebetulnya sudah banyak orang Makkah yang ingin meminangnya sebagai menantu. Namun Syekh Yasin selalu menolak dengan alasan masih ingin belajar.
Karena tak kunjung mendapatkan ketegasan jawaban dari Syekh Yasin, maka orang tuanya mendesak Syekh Yasin agar segera menikah. Dan, pada akhirnya Syekh Yasin pun menuruti perintah ayahnya tersebut. Beliau menikah pada saat mencapai usia 40 tahun, dan dari pernikahannya itu beliau dikaruniahi empat orang putra, yaitu Muhammad Nur ‘Arafah, Ridha, Fahad, dan Nizar.
Dari kisah tersebut kita sebagai seorang santri atau pelajar bisa mengambil pelajaran, betapa pun kita cinta terhadap ilmu, bukan berarti kita mengesampingkan untuk bekerja, menikah, dan bersosialisai. Semuanya harus seimbang. Memang menikah itu adalah suatu pilihan, namun bagi yang masih berada di maqom awam atau maqom tajrid, tentu saja tidak akan mampu jika harus menjomblo, bisa-bisa malah terjerumus ke lubang perzinaan. Kita sering menyaksikan sendiri ada santri yang sudah berpuluh-puluh tahun menimba ilmu di pesantren dan tidak segera menikah karena lebih asik dengan ilmu.
