Bima-Dewi Ruci, Strategi Sunan Kalijaga Menyebarkan Tasawuf

Kisah Dewi Ruci dan Bima adalah cerita dari tradisi Hindu. Namun, apakah Kanjeng Sunan Kalijaga menghapus cerita tersebut? Tentu saja tidak. Dalam sebuah pertunjukan wayang yang beliau sendiri menjadi dalangnya, Kanjeng Sunan berdakwah kepada murid-muridnya dengan mengikuti alur cerita Dewi Ruci. Saat itu, para murid diberi tahu bahwa tokoh ruhani Dewi Ruci itu sejatinya adalah Nabi Khidir yang akan dijumpai dalam perjalanan ruhani para murid. Kanjeng Sunan Kalijaga dapat mengatakan hal demikian karena yang beliau katakan adalah hasil dari pengalaman personal.

Dalam naskah Suluk Linglung Pupuh IV Dhandhanggula, dijelaskan bagaimana Nabi Khidir memangkas keraguannya untuk memasuki tubuh Sang Nabi yang berisi alam raya. Syaikh Malaya (Sunan Kalijaga) pun ketakutan melihatnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dalam bait-bait Suluk Linglung, Nabi Khidir menjelaskan bahwa ada empat cahaya dalam manusia: hitam, merah, kuning, dan putih. Cahaya hitam bermakna mudah marah, mudah sakit hati. Cahaya merah bermakna pancaran nafsu tidak baik, sumber segala hasrat emosi. Cahaya kuning bermakna potensi menghalangi keinginan dan pikiran baik, membawa ke jurang kebinasaan. Dan, cahaya putih adalah cahaya yang menenangkan, suci, dan damai.

Dalam laku tasawuf, cahaya-cahaya tersebut didefinisikan sebagai macam-macam nafsu. Cahaya hitam berarti nafsu lawwamah, merah berarti nafsu amarah, kuning berarti nafsu sufliyah, dan putih berarti nafsu muthmainnah.

Tinggalkan Balasan