Bima-Dewi Ruci, Strategi Sunan Kalijaga Menyebarkan Tasawuf

Tidak berhenti sampai di situ, Sunan Kalijaga menjelaskan dalam Suluk Linglung bahwasannya puncak perjalanan ruhani itu digambarkan saat keempat cahaya itu melebur dan hilang, dan digantikan oleh satu nyala cahaya dengan delapan warna. Itulah hakikatnya mikrokosmos diri manusia di dalam makrokosmos alam semesta.

Suluk Linglung menceritakan bahwasan perjalanan ruhani sangatlah berat. Dan karena beratnya, maka Sunan Kalijaga memberi pengertian bahwa dalam Islam ada konsep yang serupa dengan cerita Dewi Ruci. Dan tidak harus seorang yang kuat yang bisa menemukan itu. Siapa saja bisa melakukan perjalanan ruhani.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pendekatan spiritual kepada masyarakat Jawa pada saat itu memang sungguh sangat cerdas. Oleh sebab, itu sosok Sunan Kalijaga menjadi primadona bagi masyarakat Jawa karena memiliki jiwa kompromi dan memiliki sifat yang bisa menampung segala keberagaman. Di luar dari itu semua, tentu kita juga memahami bahwaan semua strategi penyebaran agama Islam ini tidak datang dengan sendirinya. Sunan Kalijaga dapat meramu strategi tersebut karena memang beliau berasal dari latar belakang dan pengalaman yang sangat mendukung. Kehidupannya dicurahkan kepada rakyat kecil. Pendekatan yang dilakukan adalah secara personal dan kemanusiaan. Pantas saja jika Sunan Kalijaga saat berdakwah mendapat perhatian yang menyejukkan. Sunan Kalijaga bukanlah sosok dai asli Nusantara saja. Beliau adalah ahli pemerintahan, ahli budaya, dan segala komponen dalam kehidupan menjadi perhatian Sang Sunan.

Laku tasawuf yang mudah diterima oleh masyarakat Jawa pun sebagian besar bersumber kepada Sang Sunan. Karena kepiawaian beliaulah penduduk-penduduk desa hingga saat ini masih menerima ajaran Islam dengan pendekatan yang sangat tradisional. Semua itu bukanlah ke sia-siaan. Islam menyebar hingga ke pelosok Nusantara yang masih susah dijangkau memang salah satunya karena pendekatan kultural dari Sang Sunan.

Tinggalkan Balasan