Bissu dan “Manusia Paripurna”

Menjadi Bissu bukanlah perkara mudah, karena memang selain harus mengalahkan nafsunya sendiri agar lulus menjadi pengemban amanah, dia juga harus ‘dipilih’ oleh semesta. Selanjutnya mereka diberi petunjuk melalui mimpi dan akhirnya dengan serangkain upacara adat disahkan menjadi seorang Bissu.

Berbincang tentang komunitas Bissu, secara sistem jender, banyak antropolog yang mengungkapkan lima jender yang ditemui di Bugis. Graham (2002, hlm. 27), misalnya, memaparkan bahwa sejak dulu masyarakat Sulawesi Selatan telah mengakui lima jenis jender, yaitu uruane (laki-laki), makunrai (perempuan), calalai (perempuan yang berpenampilan seperti laki-laki), calabai (laki-laki yang berpenampilan seperti perempuan), dan bissu (para-jender). Bila diibaratkan jari tangan, jempol dan kelingking adalah laki-laki dan peremuan, telunjuk dan jari manis adalah calabai dan calalai, sedangkan jari tengah adalah bissu itu sendiri. Saya sudah menuliskan di awal bahwa menjadi Bissu bukanlah hal yang mudah, dari cap yang menyalahi kodrat, hingga nafsu yang harus dikekang sepanjang hidupnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kembali ke novel, kebingungan demi kebingungan juga dirasakan oleh tokoh utama dalam novel tersebut, Saidi. Dia merasa bahwa kondisi dan wataknya itu benar-benar memunggungi agama yang dia kenal sejak kecil. Saidi terus dilanda rasa cemas dan takut. Pergolakan batinnya sering kali membuat dia berkonflik dengan dirinya sendiri dan dengan keluarganya. Singkat kata, karena tidak bisa bertingkah layaknya “lelaki sejati”, dia sering mendapatkan amukan dari ayahnya. Ini pulalah yang membuatnya berlari menjauhi rumah. Pelarian inilah yang nantinya akan membawanya berkenalan dengan komunitas Bissu.

Bagi saya pribadi, bagian yang memberikan “oh iya moment” dari novel terbitan Javanica tahun 2016 tersebut sehingga layak untuk dibahas adalah saat Saidi bertemu dengan salah satu tokoh ulama nyleneh di Jawa.

Diceritakan bahwa saat itu, setelah dinobatkan sebagai Bissu teratas, Saidi harus menghadiri undangan di luar pulau (Jawa). Saat itulah ia bertemu dengan ulama yang nyentrik. Selama ini, sejauh pengalamannya, ulama selalu menentang keberadaan ‘makhluk’ bernama Calabai. Bahkan konflik antara orang agama dan Calabai ini tidak jarang berujung pada kekerasan fisik. Namun sosok ulama yang satu ini malah bertindak sebaliknya. Dia bukannya menghindari Calabai, tapi tanpa enggan ia malah berbaur dengan mereka, membesarkan hati mereka, dan menjadi teman mereka saat yang lain tidak mau melakukannya. Tentu saja hal ini mengundang rasa penasarannya: “Mengapa seorang yang sewajarnya menentang keberadaan mereka, justru tanpa risih merangkul mereka?”

Tinggalkan Balasan