Novel tersebut juga diisi dengan dialog berbobot tentang alasan sang ulama untuk tidak risih dengan manusia-manusia Calabai. Intinya adalah, bahwa yang dilarang dalam agama adalah tindakan, bukan watak atau yang mengarah pada karakter, karena memang karakter atau watak itu sebuah bawaan dari Tuhan. Ia bukan produk yang dibuat-buat dan bisa diubah seenak sendiri.
Nah, pertanyaannya sekarang adalah, mengapa Tuhan yang katanya Maha Segalanya itu bisa seolah “salah” memasukkan jiwa wanita ke tubuh lelaki atau sebaliknya? Kenapa Tuhan tidak adil dengan membiarkan mereka terkena diskriminasi sepanjang hidupnya? Mengapa Tuhan tidak adil, karena dengan “misplacing” tersebut, orang-orang spesial itu tidak mempunyai kesempatan untuk membangun rumah tangga? Ah, jangankan rumah tangga, bahkan jatuh cinta pun dosa buat mereka.

Jawaban dari rentetan pertanyaan tersebut, sesuai dengan dialog yang ada di novel, sebenarnya cukup sederhana saja. Kata sang ulama tadi, bagaimana apabila yang dianggap “Ketidakadilan Tuhan” tersebut sebenarnya merupakan bentuk kasih sayang Tuhan kepada mereka? Kalau kita mau berpikir terbalik, misalnya, bahwa mereka yang “salah wadah” tersebut sebenarnya adalah orang-orang yang diberikan privilege? Orang-orang spesial yang disuruh Tuhan untuk berpuasa sepanjang hayatnya? Berpuasa dari banyak hal, terutama dari dorongan berahinya? Karena memang ada banyak batasan, baik kultural maupun religi, yang melarang mereka melakukan hal tersebut. Dan kita sama-sama paham bahwa puasa, di antara ibadah lainnya, merupakan ibadah yang paling “intim”.
Bagaimana semisal dengan mekanisme yang tadi, sebenarnya mereka diberikan sedikit “akses lebih” untuk dapat bisa lebih berkonsentrasi mengabdi kepada Tuhannya, tanpa harus repot memikirkan pasangan ataupun anak yang kata Tuhan dalam salah satu firman-Nya adalah ujian? Bagaimana bila, sebagaimana yang ditulis dalam novel tersebut, tidak sedikit yang memilih sendiri dalam hidupnya karena sudah menemukan kekasih kekalnya: Tuhan?
Bisa jadi, bahwa mungkin analogi puasa dan dialog dengan sang ulama tadi merupakan penjelasan tentang keberadaan mereka. Sekali lagi, mereka bukanlah “kesalahan” Tuhan. Mereka ada untuk memberikan pelajaran, bahwa kasih sayang Tuhan sangat beragam bentuknya.
Yang dilarang oleh agama pada mereka adalah “berbuka” dari puasa mereka, dengan “bertindak” mengubah kelamin mereka, mengumbar nafsu mereka dengan sejenis, atau tindakan lain yang mengindikasikan “berbuka sebelum waktunya”. Batasan mereka jelas: tindakan. Mereka adalah orang yang diizinkan oleh Tuhan untuk selalu berjuang mengekang dorongan biologis dan psikis.
