Yang perlu disadari, framing sesat ini dapat menjadi faktor kerentanan sosial dan menciptakan wacana yang dapat memecah belah. Maka, peristiwa ini penting menjadi alarm bersama, menjadi pengingat khususnya bagi para pengelola media, untuk selalu tetap memegang teguh kaidah dan prinsip etika publik yang berlaku.
Framing sebagai Alat Dusta

Mari kita belajar dari sosok seperti Umberto Echo, seorang akademisi dan profesor dari Universitas Bologna dalam memahami wacana sesat tentang dunia pesantren ini. Bagi Echo, framing seperti itu sesungguhnya bisa menjadi alat untuk melakukan dusta. Sebab, framing yang manipulatif menggunakan tanda-tanda secara selektif untuk menonjolkan aspek tertentu sambil menyembunyikan aspek lain, untuk menciptakan ilusi kebenaran atau kebohongan yang terstruktur. Hal itu merupakan bentuk kedustaan.
Karena itulah, apa yang dihadirkan melalui tayangan Xpose Uncensored di Trans7 tersebut dapat disebut sebagai praktik nyata bagaimana pembentukan opini tentang pesantren telah dimanipulasi dan hanya untuk kedustaan.
