Rangkaian kata, gambar, atau simbol lain dalam bentuk narasi yang dihadirkan dalam tayangan itu dapat menggantikan sesuatu yang lain secara signifikan, sehingga interpretasinya tentang dunia pesantren bukan lagi dihadirkan sebagai pusat peradaban, moralitas, dan kebangsaan yang telah melahirkan banyak ulama dan pemimpin bangsa.
Kegagalan dalam menghadirkan esensi sejati tentang pesantren ini berakibat pada terjadinya reaksi keras, khususnya dari kalangan santri dan pesantren, yang merasa didustakan. Seperti gerakan aksi boikot melalui tagar #BoikotTrans7, serta kecaman lainnya, terhadap program Trans7 yang dinilai tidak sensitif terhadap nilai-nilai kultural dan religius masyarakat Indonesia, terutama umat Islam yang menjadikan kiai dan pesantren sebagai pilar spiritual serta penjaga tradisi kebangsaan.

Sebagai hikmah, peristiwa ini perlu mejadi perenungan bersama. Bagi setiap insan media harus mengedepankan etika, tanggung jawab sosial, serta sensitivitas budaya dan agama dalam setiap produksi setiap tayangan yang disuguhkan untuk masyarakat luas.
