Buah Mangga Pengantar ke Surga

“Mungkin Tuhan masih belum mengizinkan saya bersedekah di bulan maulid ini,” gumam Nenek Salimah dengan suara pelan penuh kesedihan.

***

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Senja memerah, cahaya jingga tergurat di ufuk barat. Matahari sejengkal tenggelam, seakan mengintip orang-orang yang ramai menuju surau Kiai Mus. Mereka membawa berbagai jenis buah-buahan: salak, rambutan, mangga, dan berbagai jenis buah lainnya. Nenek Salima menatap murung di depan gubuknya, sambil sesekali menatap mangganya yang belum juga jatuh. Ia putus asa, keinginannya untuk bersedekah di bulan maulid kali ini sepertinya akan gagal lagi.

“Gusti, dosa apa yang telah hamba lakukan, sampai Engkau tak merelakan satu buah mangga pun untuk hamba sedekahkan,” gumam Nenek Salima dengan wajah menatap tanah. Perlahan air matanya pun jatuh, membasahi pipinya.

Setelah matahari benar-benar tenggelam, azan maghrib terdengar mengalun dari surau Kiai Mus. Nenek Salima yang sedari tadi duduk termenung di depan gubuknya tersadar saat mendengar suara azan. Tidak seperti bulan maulid yang sudah-sudah. Maulid kali ini Nenek Salima hanya berdiam diri di gubuknya. Ia tidak pergi surau Kiai Mus karena merasa malu, sebab sudah hampir tiga tahun ia tidak membawa buah-buahan untuk merayakan maulid Nabi di surau Kiai Mus.

Gelap semakin menyelimuti kampung, terdengar lantunan selawat Nabi bergema dari surau Kiai Mus. Perlahan suara selawat itu mengalun ke gubuk Nenek Salimah, lalu menyusup ke relung hatinya. Tanpa terasa air mata Nenek Salima jatuh. Terbesit dalam hatinya keinginan untuk pergi ke surau Kiai Mus. Tapi rasa malu menahannya. Deru angin dan suara binatang malam tertindih suara selawat dari surau Kiai Mus. Pelan mulut Nenek Salima juga mengikuti bacaan selawat itu, dengan air mata yang tak henti jatuh.

Tinggalkan Balasan