Jam dinding terus berdetik. Jarumnya yang pendek mendekat ke angka 11. Di balik binar-binar damar, seorang janda berumur setengah abad tengah duduk dan termenung sendirian di ruang tamu. Sesekali punggungnya bergerak ke kanan dan ke kiri untuk mengusir pegal. Gerakannya itu membuat kursi tua yang tengah didudukinya berderit.
Di luar sana, hujan masih mengguyur dengan derasnya disertai suara gemuruh guntur yang begitu menggangu telinga. Tak ada sinar bintang, pun rembulan yang biasanya menghiasi langit malam. Bahkan lampu yang seharunya menyala pun ikut padam. Wanita yang kerap di sapa Mak Nur itu menghela napas berat sembari mengerutkan dahinya yang berkeriput. Kepalanya sungguh terasa pusing dan berat sekali seperti dilempari batu sebesar truk.

Sudah lebih dua dasawarsa Mak Nur bekerja sebagai pedagang cilok di depan sebuah SD. Namun sudah berbulan-bulan ini dagangannya terasa sepi. Penghasilannya menurun dan bahkan bisa dibilang tiap hari yang didapat hanya kerugian. Padahal dia harus menyekolahkan sang anak semata wayangnya yang masih duduk di bangku kelas 1 SMP seorang diri.
Ia dan almarhum suaminya memang bukanlah orang berada. Bukan pula orang yang berpendidikan tinggi. Mereka hanya dapat mengenyam pendidikan sampai jenjang SD, tapi keduanya memiliki satu keinginan yang sama, yaitu menyekolahkan anak mereka setinggi mungkin agar menjadi orang sukses. Namun, kondisi ekonominya sekarang yang memburuk membuat Mak Nur menjadi gelisah. Ia takut tidak bisa mewujudkan impian mereka itu.
“MBG sialan”! kutuknya dalam hati.
Semenjak adanya program Makan Bergizi Gratis di sekolah, dagangan Mak Nur tidak seramai biasanya. Bahkan terkadang dagangannya tidak habis. Tentu ini membuat Mak Nur harus memutar otak untuk tetap bertahan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Terlebih, kini anaknya sudah masuk SMP, tentu kebutuhan sekolahnya lebih banyak jika di bandingan dengan saat di SD dulu.
Mak Nur sadar, mau bagaimanapun MBG merupakan program yang baik. Niatnya bagus demi mencegah stunting dan membantu meringankan beban uang saku anak. Mak Nur hanya bisa berharap, program mulia ini bisa menjadi berkah untuk semua pihak, anak-anak tumbuh sehat, orang tua ikut tenang, dan pedagang kecil masih tetap bertahan.
Kini, selain berjualan di SD, Mak Nur juga mencoba peruntungannya untuk jualan di depan rumahnya demi menambah pemasukan. Itu ia lakukan agar bisa menyambung hidup dan memenuhi kebutuhan sekolah anaknya. Walaupun, penghasilannya tidak seberapa, ia tetap bersyukur. Meskipun, kadang ia juga mengeluh kepada Tuhan, namun setelahnya ia merasa tidak pantas, merasa tidak tahu diri, juga merasa malu.
Di balik dinding pembatas antara ruang tamu dengan kamar, Budi, anaknya yang berambut cepak mengintip dengan hati-hati dari balik gorden pintu kamar. Kemarin ia dan teman-teman sekelasnya mendapat kabar dari wali kelas bahwa buku-buku LKS sudah tersedia. Mereka diberitahu untuk segera membeli dan mengambilnya di sekolah.
Namun, ketika mendapati sang ibu lagi-lagi termenung di tengah malam, ia menjadi segan untuk memberi tahu kabar tersebut. Ia mengingat dengan jelas ekspresi frustrasi sang ibu ketika tadi sore ia meminta uang untuk membeli kuota internet. Ibunya memang tidak mengatakan apapun padanya, tetapi ia tahu sang ibu tengah mengalami kesulitan.
Budi akhirnya berbalik menuju kamarnya dengan lesu. Melihat wajah sendu sang ibu yang telah keriput dimakan usia, Budi menjadi sedih. Ia ingin membantu untuk mengurangi kesedihan sang ibu, namun tidak tahu bagaimna caranya. Ibunya bukanlah anak kecil berumur 5 tahun seperti adik perempuan Danu, temannya, yang ketika sedih hanya perlu dibelikan permen agar kembali tersenyum. Ibunya adalah wanita dewasa dan ia tidak tahu bagaimana cara membuat orang dewasa agar tidak lagi merasa sedih. Namun satu hal yang ia tahu adalah kesedihan sang ibu jelas berkaitan dengan uang. Menghela napas pelan, Budi mengempaskan badanya ke kasur. Ia membuang pandangannya ke penjuru kamar sebelum tersentak ketika melihat gitar tua peninggalan sang ayah di sudut kamarnya. Ia kemudian tersenyum girang. Ada ide yang baru melintas di pikirannya.
Keesokan harinya, setelah pulang dari sekolah, Budi mengambil gitar sang ayah, kemudian menghampiri ibunya yang tengah duduk di samping meja dagang di depan rumahnya.
“Mak, Budi pamit ya, mau main ke rumah Danu.”
Dahi Mak Nur mengernyit heran mendapati anak semata wayangnya tumben membawa gitar. “Kok bawa-bawa gitar?”
Budi menelan ludah. Gugup. Dengan cepat ia mencari alasan. Tidak mungkin ia berkata jujur untuk apa membawa gitar, karena ia tahu sang ibu pasti akan sangat marah.
“Hmm, mau ngajari Danu main gitar, Mak. Soalnya di kelas Budi sama Danu ada penilaian main alat musik. Terus Danu tak bisa, jadi minta Budi buat ngajari.”
“Ya sudah, hati-hati ya.”

Bagus banget, Kak. Konflik sederhana, namun relate.
Terima kasih kak atas apresiasinya, Ini juga masih saya belajar kak. Mungkin kalo ada masukan dari kaka, bisa tulis di sini kak