Dengan kikuk Budi menyalami tangan ibunya. Ia merasa bersalah telah membohongi perempuan yang telah melahirkan dan merawatnya itu.
Budi berjalan sekitar saru kilometer menuju jalan raya dari rumahnya. Ia memegang gagang gitar dengan erat. Dari kejauhan, ia melihat kedatangan bus, lalu menoleh ke kanan dan ke kiri. Budi bergegas menyebarang setelah memastikan tidak ada kendaraan yang tengah melintas. Kemudian, bersama penumpang lain, Budi menaiki bus dengan tergesa-gesa. Budi berpegangan erat pada samping kursi bus menahan tubuhnya agar tidak tumbang ketika bus melaju dengan kecepatan penuh. Ia berdiri di dekat pintu masuk. Matanya berpendar mengamati penumpang. Ada sekitar 15 orang di dalam bus. Budi perlahan berjalan ke tengah, tangannya dengan lihai memetik senar-senar gitar, sementara bibirnya melantunkan lagu Bento yang dipopulerkan Iwan Fals dengan merdu.

Ayah Budi adalah penggemar berat musisi legendaris Iwan Fals. Seja kecil Budi telah dikenalkan oleh ayahnya pada lagu-lagu Iwan Fals. Setiap akhir pekan, setelah ayah pulang kerja, mereka akan duduk di belakang rumah sembari berdendang bersama-sama menikmati udara malam. Setiap kali merindukan sang ayah, Budi akan menyanyikan lagu-lagu Iwan Fals dengan gitar ayahnya itu. Karena, lagu-lagu itu membuat ia merasakan kehadiran sang ayah di sisinya. Bahkan ia merasa bahwa namanya ada kaitannya dengan lagu Iwan Fals yang berjudul Sore Tugu Pancoran. Baginya, lagu ini merupakan motivasi untuk tidak mudah menyerah dan terus berjuang, setidaknya itu cukup untuk mengurangi rasa rindunya yang teramat besar.
Budi melepas topi yang ia kenakan, kemudian menghampiri satu per satu penumpang lalu menyodorkan dengan tangan kanan sembari tersenyum ramah. Setelahnya, Budi kembali bersandar pada pintu bus sembari menghitung uang yang terkumpul di dalam topinya. Dimasukannya uang itu ke dalam saku celananya. Ia menunggu bus berhenti. Budi pun bergegas turun ketika bus berhenti. Ia kemudian berdiri di sisi jalan menunggu kedatangan bus selanjutnya.
Hari terus berganti, saat ini Budi tengah mendongak mengamati langit yang mulai kehilangan sumber terangnya. Sebentar lagi azan magrib berkumandang, namun ia masih terjebak di emperan toko sendirian, menunggu hujan reda. Hari ini adalah hari ketiga ia menjadi pengamen.
“Ah tidak!” Kepala Budi menggeleng protes. Daripada dijuluki sebagai pengamen, ia lebih suka disebut musisi jalanan. Namun, setelah dipikir kembali, sebutan musisi jalanan juga tidak cocok untuknya. Sebab, ia bernyanyi di depan orang-orang yang ada di dalam bus bukan, bukan di depan orang-orang yang ada di jalanan. Jadi sebutan apa yang cocok? Musisi bus kah?
Budi menjadi tersenyum memikirkannya, dan ia tiba-tiba merasa bodoh. Tidak penting apa julukan yang pantas untuknya, yang penting adalah ia kini sudah memiliki cukup uang untuk membayar buku LKS. Jadi ia tidak perlu lagi meminta uang kepada sang ibu.
“Budiii! Kurang ajar kamu!”
Budi mengernyit ketika samar-samar terdengar seseorang memaki namanya. Kepala Budi menoleh ke kanan dan ke kiri, namun tidak menemukan apa-apa. Mungkin salah dengar, pikirnya. Namun, leher Budi tiba-tiba meremang, perasaanya menjadi tidak enak, perlahan dia memandang jauh ke depan. Budi terkejut, matanya melotot seperti orang kesurupan ketika mendapati seorang wanita bertubuh kurus tengah berdiri di seberang jalan, tangan kirinya memegang payung erat-erat, sementara matanya menatap lurus ke arah Budi sambil mengacung-acungkan tangan kananya yang bebas. Tubuh Budi membeku. Badanya menjadi kaku seperti ada paku yang menancap di kakinya. Ia tidak bisa bergerak. Budi menelan ludah secara kasar. Wanita itu berjalan dengan cepat ke arahnya. Setelah berhasil menguasai diri dari keterkejutan, Budi berlari kencang tak tentu arah.
Mak Nur yang melihat putra semata wayangnya kabur pun ikut berlari mengejar di belakangnya. Jantung Budi berdegup kencang. Sang ibu sepertinya benar-benar marah atau mungkin murka. Raut wajah ibunya mengingatkan ia pada salah satu tokoh pewayangan, Rahwana, yang terlihat bengis dan kejam. Jalanan yang licin membuat Budi tergelincir. Ia tertelungkup di genangan. Bajunya penuh dengan noda berwarna coklat. Budi hanya bisa pasrah, tak sanggup mengelak ketika sang ibu berhasil menangkapnya, menjewer telinganya keras-keras. Budi berteriak kesakitan.
“Aduuhh sakit, Mak!” seru Budi.
“Dasar anak kurang ajar!”
Tangan Budi terangkat, mencoba melepaskan tangan ibunya dari telinganya. Mak Nur menghela napas dalam, kemudian mengeluarkannya keras-keras, matanya memejam mencoba mengatur emosi di benaknya, namun gagal ketika matanya melihat gitar yang tergeletak di tanah. Budi yang menyadari tatapan itu pun bergegas megambil gitar dan menjauhkannya dari Mak Nur.
“Sini gitarnya! Sini!”
Budi menggeleng, semakin menyembunyikan gitar milik ayahnya di balik punggung.
“Tidak! Budi tak mau!”
“Sini, kasih ke mak!”

Bagus banget, Kak. Konflik sederhana, namun relate.
Terima kasih kak atas apresiasinya, Ini juga masih saya belajar kak. Mungkin kalo ada masukan dari kaka, bisa tulis di sini kak