Sebentar kemudian seorang perempuan keluar menghidangkan nampan berisikan pisang goreng dan dua cangkir kopi yang masih mengepulkan uap panas. Perempuan itu tak memakai cadar, dan mataku menangkap kecantikannya. Aku menelan ludah, entah karena melihat pisang goreng itu atau melihat yang lain.
Lalu ada sepotong ingatan tentang nasihat kiaiku yang melintas di benak, bahwa kalau seorang lelaki melihat perempuan cantik agar segera mengalihkan pandangan, lalu pulang dan menumpahkan hasrat pada istrinya. Seketika itu juga aku ingat, bahwa belum ada seorang istri pun yang kupunyai, bahkan calon juga belum ada. Secangkir kopi itu lantas aku ambil dan segera menyeruputnya.

“Dia istriku,” kata lelaki itu, memotong semua imajinasiku.
Spontan aku mengangguk. Dan tiba-tiba dadaku terasa panas, bukan karena cemburu, tapi karena kopi yang baru kuminum memang masih panas. Lalu tanganku hendak menyomot pisang goreng, untung masih mampu kutahan. Seorang guru harus menjaga marwahnya, jangan menampakkan kerakusan, pikirku.
“Aku ngajar di MTs Al Hidayah baru setahun ini, Pak,” jawabku detik berikutnya.
Lelaki itu menjawab dengan anggukan kepala. “Salat Jumat di masjid At-Taqwa program baru?” tanyanya kemudian.
“Iya, Pak. Baru mulai semester ini karena banyak permintaan dari wali murid,” jawabku. Pikiranku mulai menebak arah pembicaraan.
“Anda guru apa?” tanyanya lagi.
“Guru madrasah.”
“Maksudku pelajaran apa?” ulangnya dengan senyum tipis yang entah apa maksudnya… Astaghfirullohaladziiim. Aku beristighfar dalam hati. Lalu-lalang istrinya di ruang tengah yang tampak dari tempat kami bercengkerama membuat fokusku pecah. Aku tidak boleh terlihat bodoh di hadapan lelaki ini. Jangan-jangan dia memang bermaksud membodohiku?
“Oo itu. Bahasa Arab dan fikih, Pak,” sahutku kemudian.
“Nah, harusnya Anda paham,” ucapannya menggantung sembari mengarahkan pandangannya padaku. Aku mengerutkan dahi untuk memahami maksud ucapannya. Sayang, aku tetap tak kunjung paham maksud ucapan lelaki ini.
“Maksudnya, Pak?” aku kemudian bertanya.
”Idzaa qulta lishoohibika yaumal jum’ati anshit, wal imaamu yakhtubu faqod laghout.”
Setelah mengucapkan hadis yang biasa dibaca bilal salat Jumat itu dia kemudian menyeruput kopi.
”Paham kan itu artinya apa?”
Aku mengangguk. Kutengok jarum jam di tembok ruangan itu sudah menunjukkan jam satu siang, sebentar lagi aku ada jam ngajar. Dan sepertinya dia baru memulai pembicaraan sesungguhnya. Lelaki itu mendesah dan menarik napas panjang. Aku mulai merasa jengah, tapi pancingan pertanyaannya menarik perhatianku.
