Bukan Ngopi Biasa

“Lalu kenapa Anda terus berbicara di sepanjang khotbah tadi?”

“Bolehkah saya minum kopinya dulu?” sahutku. Dia mengangguk. “Aku bicara untuk menghentikan ulah anak didikku, Pak. Bapak juga tahu sendiri tadi,” ucapku beberapa saat berikutnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Aku juga memberitahu mereka agar diam tapi dengan isyarat tangan, tanpa harus bersuara pun bisa. Jadi, tidak perlu merusak diri sendiri untuk membenahi orang lain. Anda harusnya tahu, menyuruh diam kepada orang lain berdosa dan dapat menghapus pahala jumatan. Itu hadis sahih Bukhori dan Muslim. Valid no debat.”

“Bapak tahu dari mana?” aku mengajukan pertanyaan balik.

“Aku kursus Bahasa Arab cukup lama. Pernah nyopir di Arab tiga tahun juga. Paham-lah makna hadis-hadis seperti itu tanpa harus membuka kamus atau bertanya pada siapa,” jawabnya penuh percaya diri.

“Maaf Pak, pengetahuan bapak tentang hadis itu sepertinya terlalu tekstual. Ada sanad yang Bapak tinggal, sehingga mata rantai pemahamannya terputus. Makna hadisnya jadi dangkal. Padahal hadis itu tak sekeras yang Bapak pahami, Pak.” uraiku singkat.

“Kamu kata siapa?” balasnya tak terima.

“Ada banyak kitab karya ulama besar yang menyatakan kebolehan berbicara saat khotbah disampaikan jika itu memang dibutuhkan dan mendesak. Yang diharamkan adalah pembicaraan yang tiada penting saja sebenarnya. Bapak bisa buka kitab Asnal Matholib, Kifayatul Akhyar, Fathul Alam, dan lain-lain. Semua kitab itu dikarang oleh ulama yang sanad keilmuannya jelas. Sanadnya nyambung sampai Rasulullah.”

“Kelompok kalian ini selalu berdalih dengan sanad. Padahal redaksi hadis itu cukup jelas. Ini namanya mempersulit diri dalam mencari ilmu,” tukasnya.

“Lebih baik bersusah payah dalam mencari ilmu daripada mempersulit diri dalam menjalankan agama. Coba, Pak, bayangkan, misal seorang tetangga melaporkan ucapan Bapak bahwa tempo hari pernah bilang “istriku tidak cantik lagi”. Dia melaporkannya pada istri Bapak, pasti istri Bapak marah-marah. Padahal sebenarnya maksud Bapak tidak seperti itu, melainkan ‘Istriku tidak cantik lagi, tapi cantik sekali!’ Tapi tetangga Bapak itu tak mau menyampaikan maksud ucapan Bapak. Itulah perumpamaan pentingnya sanad. Bagaimana perasaan Bapak sekarang?”

Dia terdiam mendengar ucapanku, lalu menyeruput kopinya lagi sambil bilang “akhkhkhkh” cukup panjang. “Masoook,” dengusnya kemudian dengan lafal huruf  “o” yang cukup panjang pula.

“Alhamdulillah, akhirnya Bapak bisa memahaminya. Marilah kita taat bersanad biar selamat.”

“Apa? Maksudnya kopi buatan istriku ini yang masuk, Pak Guru,,,.”

Aku menghela napas panjang sembari membaca istighfar dalam hati.

***.

Mentaraman, 30 November 2024.

 

Tinggalkan Balasan