Mendengar penjelasan dari lelaki di depan Nauri, rasa sesak di dadanya seketika menguap. Beban yang selama ini bersarang mulai berlengkesa. Ada setitik harapan untuknya dan membahagiakan ibu yang melahirkannya. Seusai menyatakan niatnya, Nauri bergegas minta diri. Dia tak mau berlama-lama, hingga mengganggu waktu Kiai Rasyid dan istri.
***
Jantung Nauri berdengap. Waktu terasa lama baginya. Malam ini keluarga calon suaminya beserta rombongan Kiai Rasyid akan segera datang. Meski belum paham betul tentang lelaki yang dijodohkan kepadanya. Namun, rasanya bisa mengaduk-aduk hati gadis penghafal Al-Qur’an itu. Pertama kali dia merasakan hal ini.

Tak lama kemudian terdengar deru beberapa mobil masuk ke halaman rumah Bu Fitri. Kemudian, suara salam satu per satu mulai terdengar. Mereka semua dipersilakan masuk dan duduk di tempat yang sudah disediakan di ruang tamu. Beberapa hidangan berupa beberapa kudapan dan minuman sudah tersedia di sana. Acara diadakan secara sederhana dengan dihadiri keluarga inti saja. Acara dipimpin oleh Kiai Rasyid. Pun beberapa wejangan dari pimpinan pondok itu dikeluarkan. Kegiatan berlangsung dengan khidmat dan lancar tanpa hambatan.
Wajah calon mempelai wanita memerah. Dia tersipu malu saat beradu pandang dengan calon suaminya itu. Hatinya berdesir. Memang betul sesuai yang diinginkan Nauri. Selera Kiai Rasyid sangat tinggi. Namun, gadis itu tak berani berlama-lama menatap lelaki calon suaminya itu. Cepat-cepat dia menunduk malu.
“Silakan dinikmati hidangan yang ada. Hanya ini yang bisa kami persembahkan,” ucap Bu Fitri seraya mengulas senyum termanis. Setelah itu, wanita paruh baya itu menuju kamar mandi. Hasrat ingin buang air kecil tiba-tiba menerpanya.
Detik demi detik berlalu, hingga belasan menit terlampaui. Nauri mencari sosok ibunya. Sebab, para tamu akan segera berpamitan. Gadis itu menuju kamar mandi. Dia mendapati pintu masih terkunci dari dalam. Beberapa ketukan dan teriakan memanggil Bu Fitri, tetapi tak ada tanggapan dari dalam.
Semua orang mulai panik. Semua rombongan tamu mengulur waktu pulang untuk menolong Nauri. Salah satu mereka mendobrak pintu kamar mandi. Sungguh membuat semua mata yang melihat itu terkejut.
“Ibuk!” jerit Nauri seraya mendekat ke jasad wanita yang sudah tergeletak di lantai itu. Dia memeriksa semua anggota vital Bu Fitri. Tangisnya tak terbendung, saat menyadari bahwa Bu Fitri sudah tak bernapas lagi.
“Maafkan aku, Bu. Aku yang tak mau mengikuti nasihat ibu untuk segera menikah. Kini, Ibu tak bisa melihatku di pelaminan nanti,” sesegukan gadis yang memangku raga ibundanya.
“Bulan Nauri seperti bulan yang kesiangan. Terlambat membahagiakan sang Ibu. Kasihan,” ucap lirih salah satu teman Nauri yang juga sebagai tamu di sana.
***
Riau, 3 November 2021.
ilustrasi: jeihan, artspace.id.
